Tabel Konversi Biner – Desimal IPv4

Download: tabel_konversi_biner_desimal_ipv4.pdf

Tabel konversi biner - desimal IPv4 (thumbnail)

Alhamdulillah, bisa “menelurkan” karya juga akhirnya. Sebenarnya sederhana, kita yang berkutat di dunia jaringan komputer pastinya sering berurusan dengan konversi IP, antar bentuk desimalnya ke dan dari bentuk binernya. Bagi yang malas menghitung, silakan pakai tabel bantu ini. Cara pemakaiannya mudah dan sudah ada di situ. Format: A4 full, 1 halaman.

Silakan download PDFnya via link di atas. Cetak, dan tempel di dinding kamar :mrgreen:

JarKom: apa itu?

Selama ini tulisan saya tentang jaringan komputer tampaknya kurang terstruktur; loncat sana sini, mungkin karena saya menuliskannya hanya berbasis mood dan pertanyaan atau request saja. Jadi, apa itu “jarkom”?

Jarkom di konteks ini adalah singkatan dari “jaringan komputer”. Gambaran yang paling mudah, sederhana dan bisa cepat dibayangkan di kepala kira-kira begini:

ada banyak komputer, saling terhubung oleh media tertentu, bisa saling berbagi manfaat, seperti: kirim mengirim file, ngobrol antar penggunanya, mengerjakan aktifitas mengasyikkan secara bersama-sama (game jaringan atau menyusun satu makalah).

Nah, jelas sekali kan ya keuntungan memakai komputer yang terhubung dengan jaringan, dibanding dengan menggunakan komputer yang sendirian saja. Jaman sekarang media penghubung antar komputer tidak hanya berupa kabel tapi juga nirkabel alias wireless yang sering diistilahkan orang dengan satu kata: “wifi”.

Bagi anda yang tidak hanya sebagai pengguna, perlu dan penting untuk tidak berhenti pada memahami pengertiannya saja. Jika demikian, mulai dari topik apa belajar jarkom itu? Baca lebih lanjut

Menyederhanakan Pengalamatan IP (bagian 2)

Ini kelanjutan artikel terdahulu dengan judul yang sama, tentang metode belajar pengalamatan IP secara sederhana (well, tapi “sederhana” memang relatif). Artikel aslinya terdiri dari 3 (tiga) halaman, jadi saya pikir lebih baik membuat tulisan adaptasinya secara terpisah.

Kali ini pembahasannya tentang netmasking. Namun sebelum itu, seperti biasa kita ulas dulu serba ringkas beberapa hal pendukungnya; mulai dari “operasi bitwise dengan AND”.

Operasi bitwise dengan operator logika AND adalah… well, operasi bitwise antara 2 (dua) bilangan biner dengan AND sebagai operatornya. Haha, sangat tidak jelas kan 😀

Begini, operasi bitwise ialah operasi yang diterapkan terhadap satu atau lebih pola bits, atau terhadap bilangan biner; operasi dikenakan, atau diterapkan ke setiap bit individual dari pola atau bilangan biner tersebut. Lebih jelasnya, misal saja ada bilangan biner “10110010” dan ada juga “01100111“. Baca lebih lanjut

Soal Pengalamatan IP Tipe 1

Soal ujian yang menanyakan tentang pengalamatan IP (versi 4) terdiri dari bermacam jenis. Termasuk yang masih sederhana ialah tipe yang meminta anda mengidentifikasi, IP sekian termasuk ke kelas mana. Atau, memilih jawaban mana yang merupakan jangkauan kelas tertentu.

Satu kesepakatan informal di sini adalah, apabila netmask tidak disebutkan, artinya anda silakan memakai netmask default. Apabila anda tidak mengetahui berapa netmask default, maka anda harus terlebih dahulu mengidentifikasi alamat IP di soal itu, termasuk ke kelas manakah dia? Setelah tahu dia anggota kelas mana maka anda akan bisa menetapkan netmask default.

Berikut ini contoh yang pertama, tipe yang menyuruh anda memilih mana di antara jawaban yang menunjukkan jangkauan IP kelas tertentu.

Range IP address kelas B dimulai dari … hingga …

  1. 126.x.x.x sampai dengan 192.x.x.x
  2. 126.x.x.x sampai dengan 191.x.x.x
  3. 192.x.x.x sampai dengan 254.x.x.x
  4. 10.x.x.x sampai dengan 172.x.x.x
  5. 127.x.x.x sampai dengan 192.x.x.x

(arsip try out TKJ IV-A tahun 2009/2010)

Pada soal di atas ada 5 pilihan; mana di antara kelima pilihan itu yang benar untuk menjawab inti persoalan, “jangkauan alamat IP kelas B”. Tidak ada netmask disebut-sebut di sini, jadi kita anggap seting / ketentuan default yang berlaku.

Sebagaimana sudah diajarkan di artikel terdahulu, yang menentukan kelas IP adalah byte pertama. Dari kiri ke kanan, kelas A tidak mempunyai “1” pada byte pertama itu (dengan kata lain, byte pertama itu semuanya nol). Berturut-turut, kelas B mempunyai satu buah “1”, kelas C punya dua buah “1”, kelas D mempunyai tiga buah “1” dan kelas E punya empat buah “1” (dengan kata lain, byte pertama itu terdiri dari “1” semua).

Ingat kembali tabel jangkauan IP standar setiap kelas.

+-------.--------------.-----------------.------------------+
| Kelas | Byte pertama | Desimal pertama | Desimal terakhir |
+-------+--------------+-----------------+------------------+
|   A   | 0000         | 0               | 126              |
|       |              |                 | 127 (loopback)   |
|   B   | 1000         | 128             | 191              |
|   C   | 1100         | 192             | 223              |
|   D   | 1110         | 224             | 239              |
|   E   | 1111         | 240             | 247              |
'-------'--------------'-----------------'------------------'
                Tabel Range kelas IP yang standar

Kita tidak usah menghafal tabel di atas, cukup mengingat bahwa byte pertama menentukan kelas. Dan, di kelas A, byte pertama ini semua nol; di kelas B, hanya bit terkiri dari byte pertama ini yang bernilai “1”, kelas C mempunyai dua buah bit “1” (yang paling kiri dan sebelah kanannya). Begitu seterusnya.

Nah, yang ditanyakan adalah jangkauan kelas B, berarti mulai dari nilai biner “1000” sampai tepat sebelum “1100“. Dalam desimal, masing-masing angka biner itu nilainya adalah 128 dan (128+64) -1 alias 191 (penjelasan: “1100” itu permulaan kelas C, jadi kalau akhir dari kelas B tentunya sama dengan nilai desimal “1100” dikurangi 1).

Jadi, jawaban yang benar adalah: 128.x.x.x – 191.x.x.x

Rupanya tidak ada opsi jawaban yang benar 😀

Nah kita akhiri dengan sedikit soal latihan, semuanya tentang identifikasi kelas IP standar.  Jawaban dan pembahasannya di artikel setelah ini, insya Allah 🙂

  1. Identifikasi, alamat-alamat ini termasuk kelas mana!
    1. 172.20.1.111
    2. 192.168.1.104
    3. 10.0.0.1
    4. 8.8.8.8
    5. 180.247.198.1
    6. 74.125.235.80
  2. Manakah sajakah di antara alamat IP berikut ini yang termasuk anggota kelas C?
    1. 168.192.23.45
    2. 192.168.5.77
    3. 74.125.235.80
    4. 192.168.0.0
    5. Semua jawaban salah.

 

Sumber / bahan bacaan:

  1. Artikel Wikipedia Inggris tentang IP address.
  2. Artikel Wikipedia Inggris tentang subnet directed broadcast.
  3. Arsip soal try out TKJ IV-A (pribadi, tidak tersedia online).

Creative Commons LicenseSoal Pengalamatan IP Tipe 1 by Fathoni Wahyu Utama is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 Unported License.

Menyederhanakan Pengalamatan IP

Soal tentang hitung-menghitung IP termasuk jenis yang banyak keluar di Ujian Nasional atau UN alias UNas. Karena materi tentang topik ini diajarkan di kelas 2, atau bahkan akhir kelas 1, maka tidak aneh bila bagi kelas 3 agak terasa berat, terutama yang catatannya tidak lengkap (atau ada yang tidak punya catatan tentang topik ini?)

 Pada saat ujian, penting sekali menguasai “rumus” khusus agar penyelesaian yang tepat bisa diperoleh secepat-cepatnya. Namun demikian, dasar pemahaman yang kuat juga perlu dimiliki agar tidak bingung “angka yang dimasukkan ke variabel-variabel di rumus itu asalnya dari mana yah?”

 Nah kita mulai dari titik paling awal, bagaimana membedakan kelas-kelas IP; di angka berapa setiap kelas mulai dan di angka berapa pula berakhirnya. Untuk memahaminya, kita ingat-ingat sedikit pelajaran tentang angka biner.

 Alamat IP (versi 4) sebenarnya tersusun dari angka biner 4 byte; setiap 1 byte adalah 8 bits, dan yang disebut “1 bit” adalah satu buah angka biner, entah itu “1” atau pun “0” (karena sistem biner memang hanya terdiri dari 2 lambang bilangan itu). Tidak ada hal yang rumit di sini; jadi, “10010101” adalah 1 byte, dan “11100000” adalah 1 byte yang lain lagi.

 Karena manusia kesusahan bila terlalu lama terpapar oleh bilangan biner, maka IP lebih sering ditulis sebagai angka desimal; bagaimana mengonversi angka biner ke desimal? Bilangan biner di posisi paling kanan mempunyai bobot “1”, ini berasal dari 20 (dua pangkat nol). Demikianlah, semakin ke kiri, bobotnya semakin besar karena pangkatnya semakin tinggi.

 Mengapa bilangan dasarnya 2? Ya karena ini sistem bilangan dasar 2 alias sistem biner. Jadi bobotnya makin ke kiri, berturut-turut adalah 21, 22, 23, 24, 25, 26dan 27. Dan mengapa pula berhenti sampai bobot dua pangkat tujuh? Karena IP yang lebar totalnya 32 bit itu dipecah-pecah menjadi 4 byte, alias dipecah per 8 bits.

 Dasar dalam menghitung IP adalah pada tiap byte ini, maka itu kita berhenti di “27” (bilangan biner 8 bits, bobotnya mulai dari dua pangkat 0 sampai pangkat 7, silakan dihitung sendiri jika tidak percaya; mulai dari 20 sampai 27 tentu jumlahnya 8 buah). Lihat tabel 1 ini.

+------------------------------------.--------------------+
|                 BOBOT              |                    |
+-----.----.----.----.---.---.---.---+    BIL. DESIMAL    |
| 128 | 64 | 32 | 16 | 8 | 4 | 2 | 1 |                    |
+-----+----+----+----+---+---+---+---+--------------------+
|  1  |  0 |  0 |  0 | 0 | 0 | 0 | 0 |        128         |
|  1  |  1 |  0 |  0 | 0 | 0 | 0 | 0 |        192         |
|  1  |  1 |  1 |  0 | 0 | 0 | 0 | 0 |        224         |
|  1  |  1 |  1 |  1 | 0 | 0 | 0 | 0 |        240         |
|  1  |  1 |  1 |  1 | 1 | 0 | 0 | 0 |        248         |
|  1  |  1 |  1 |  1 | 1 | 1 | 0 | 0 |        252         |
|  1  |  1 |  1 |  1 | 1 | 1 | 1 | 0 |        254         |
|  1  |  1 |  1 |  1 | 1 | 1 | 1 | 1 |        255         |
'-----'----'----'----'---'---'---'---'--------------------'
                         Tabel 1

Dengan penghitungan bobot, maka bilangan biner “10101001“, jika dikonvert ke desimal menjadi:

(1x1) + (1x8) + (1x32) + (1x128) = 169

Keterangan: deret hitung di atas dimulai dengan bobot terendah yakni bobot di posisi paling kanan, walau deret tersebut ditulis dari kiri. Posisi yang angkanya nol sengaja dilewati (tidak ditulis di deret itu).

Sekarang untuk contoh kedua, misalnya, berapa desimal dari “00001111” itu? Ada dua cara; cara yang “susah” dulu, yakni seperti deret tadi (posisi yang angkanya nol tidak ikut ditulis di sini).

(1x1) + (1x2) + (1x4) + (1x8) = 15

Cara yang mudah: gunakan urutan bobot seperti di tabel 1 tadi, yaitu (mulai dari bobot tertinggi) 128, 64, 32, 16, 8, 4, 2, dan 1. Kemudian ambil bobot dari posisi nol pertama, posisi 24 = 16, dan langkah terakhir, kurangi 1. Kita akan peroleh “15”.

Kesimpulan: jika bilangan biner itu  “1” semua mulai dari kanan, maka nilai desimalnya bisa diperoleh dengan mengambil bobot dari posisi nol pertama segera setelah “1” yang paling kiri, lalu kurangi bobot itu dengan 1. Syaratnya: bilangan biner tersebut harus serangkaian angka 1 mulai dari kanan (tidak harus penuh 1 semua). Karena bobot bit posisi ke-9 adalah “256”, maka apabila kita punya 1 byte yang terdiri dari angka “1” semua, nilanya dalam desimal adalah: bobot bit posisi ke-9 dikurangi 1, yakni 256 – 1 = 255.

Tabel 1 di atas tadi bisa kita mampatkan agar lebih ringkas lagi menjadi seperti tabel 2. Dengan tabel ini, bila kita punya 1 byte “11100000” maka nilainya dalam desimal adalah “224”.

+------.-----.-----.-----.-----.-----.-----.-----------------------+
| 128 | 64  | 32  | 16  |  8  |  4  |  2  |  1  | Bobot per posisi |
+-----+-----+-----+-----+-----+-----+-----+-----+------------------+
| 128 | 192 | 224 | 240 | 248 | 252 | 254 | 255 | Dijumlahkan dgn  |
|     |     |     |     |     |     |     |     | bobot di kirinya |
'-----'-----'-----'-----'-----'-----'-----'-----'------------------'
                              Tabel 2

Bilangan “11100000” terdiri dari 3 buah angka 1 mulai dari kiri, jadi silakan lihat ke tabel 2, di baris 2 kolom 3, kita akan memperoleh “224”.

Isi setiap kolom di baris ke-2 diperoleh dari menjumlahkan bobot per posisi (yakni baris 1) dengan sebelah kirinya. Jadi, asal muasal “224” di baris kedua, kolom ketiga tadi adalah (lihat baris 1) dari: 128 + 64 + 32 = 224.

Tabel 2 cocok dipakai ketika kita punya bilangan biner yang berisi deretan “1” urut dari kiri.

Oke, sudah cukup kita membahas tentang bilangan biner dan konversinya ke sistem desimal. Sekarang masuk ke pembahasan alamat IP (versi 4). Format alamat IP adalah angka biner 32 bit, alias 4 byte. Setiap byte ditulis dipisahkan oleh “dot” atau titik, tidak peduli kita menuliskannya dengan biner atau pun desimal.

Jadi apabila desimal, maka ditulis sebagai “mmm.nnn.xxx.yyy” (dengan angka terendah adalah 0 dan angka tertinggi 255).

ALamat IP dibagi menjadi beberapa kelas; kelas A, B, C, D dan E. Karena kelas D dan E dicadangkan untuk keperluan khusus, maka di keseharian orang memakai kelas A, B dan C. Termasuk ke kelas mana suatu alamat IP, akan ditentukan oleh byte pertama (ditegaskan, “byte” berarti biner).

Jadi, alamat IP “205.140.187.31” adalah anggota kelas C karena byte pertama bernilai “205” (desimal). Bagaimana bisa? Lihat tabel 3.

+-------.--------------.-----------------.------------------+
| Kelas | Byte pertama | Desimal pertama | Desimal terakhir |
+-------+--------------+-----------------+------------------+
|   A   | 0000         | 0               | 126              |
|       |              |                 | 127 (loopback)   |
|   B   | 1000         | 128             | 191              |
|   C   | 1100         | 192             | 223              |
|   D   | 1110         | 224             | 239              |
|   E   | 1111         | 240             | 247              |
'-------'--------------'-----------------'------------------'
                            Tabel 3

Mudah saja kan. Hanya perlu mengingat bahwa byte pertama menentukan IP itu akan masuk ke kelas mana. Kelas A, byte pertama nol semua; kelas B, byte pertama berisi sebuah “1” (mulai dari kiri). Demikian seterusnya hingga yang terakhir kelas E, byte pertamanya semua “1”.

Kemudian konversilah byte pertama tersebut ke desimal, ini akan menjadi nilai IP yang mengawali kelas itu (kali ini IP sudah mulai ditulis dengan desimal). Dan berapa nilai akhir bagi sebuah kelas? Sangat mudah, tentu akhir sebuah kelas adalah angka sebelum awal kelas berikutnya.

Jadi, karena kelas  dimulai dari 128, maka kelas A berakhir di 126 (ya ya, saya tahu, ini merupakan sedikit perkecualian karena 127 dicadangkan untuk loopback). Kelas C berakhir di 223 karena kelas D mulai di 224, demikian seterusnya.

Tidak terlalu banyak yang harus dihafalkan, kan?

Anda mungkin bertanya-tanya, bagaimana bisa mengetahui berakhirnya kelas E di 247? Well, kelas D dan E tidak usah dipusingkan 😎

Sumber / bahan bacaan: artikel Linux Journal berjudul Simplified IP Addressing, halaman 1.

Artikel ini akan berlanjut ke bagian 2 insya Allah.

Well Known Ports yang Sering Muncul di Soal UN

Di soal Ujian Nasional (UN atau UNas) jurusan TKJ, persoalan tentang ports termasuk jenis soal yang hampir selalu keluar. Karena bukan dari jenis soal hitungan, maka satu-satunya jalan adalah dengan menghafalkannya. Jumlah well known ports sendiri sangat banyak, 1024 buah ports dan jelas tidak mungkin menghafalnya.

Namun demikian, tentu tidak semua punya peluang tinggi untuk keluar di soal UN. Berikut ini daftar 10 ports (sekaligus dengan penjelasan tambahan) yang sering muncul di soal UN. Apabila anda tertarik mengetahui well known ports selengkapnya, silakan lihat file /etc/services yang pasti ada di sistem Linux anda, apa pun distronya.

Daftar ports akan ditampilkan urut, mulai dari nomor port kecil menuju ke nomor yang besar; kita akan mulai dari port 20 dan berakhir di port 443. Baca lebih lanjut