LOG-wilmas-work-09072012-0305pm

Langsung saja, tidak ada basa-basi.

Deskripsi singkat: masalah laptop bersistem operasi Win 7 yang disebabkan atau dipicu oleh virus. Sistem sering crash sehingga diputuskan instalasi ulang; di sana masalah lain muncul: folders yang dicurigai bervirus tetapi tidak bisa hilang setelah dipartisi ulang dan diformat; bahkan setelah menggunakan Active KillDisk bawaan Hiren!

Tools yang dipakai: Hiren Boot CD versi 10; Acronis dan Active KillDisk (keduanya di dalam Hiren). USB flash disk berisi Slax GNU/Linux; dd, cfdisk dan fdisk (ketiganya di dalam Slax GNU/Linux).

Status: teratasi / terpecahkan (tapi tidak termasuk misterinya).  Baca lebih lanjut

Iklan

Bad sector, apa dan bagaimana.

Pernah mengalami punya hard disk yang bad sector? Atau, hard disk milik teman barangkali? Yah, tentunya ini berlaku bagi yang (pernah) punya PC saja ya, atau yang jualan PC.

Atau bisa jadi, Anda sendiri pernah “bad sector“? Hehe… :mrgreen:

Bad sector ialah, a bad sector is a sector on a computer’s disk drive that cannot be used due to permanent damage, such as physical damage to the disk particles, demikian, seperti biasa, menurut Wikipedia. Kerusakan permanen; ini menarik sekali mengingat dulu jaman purbakala, eh, jaman kuliah, saya tahu dan berkeyakinan ada dua jenis bad sector. Tentu tahu dan yakinnya dari teman-teman serta para senior. Bad sector pertama bisa “disembuhkan” dan yang jenis kedua, tidak bisa disembuhkan. Setelah membaca artikel itu, kesan saya, semua bad sector memang permanen.

A modern hard drive comes with many spare sectors, kata artikel itu; saya tak tahu bagaimana kalau hard disk kuno, apa (disediakan juga) cukup sector cadangan, atau gak. Ketika sebuah sector dideteksi sebagai “bad” oleh firmware yang ada di controller hard disk, maka akan dilakukan remaps, atau “pemetaan ulang” logical sector ke physical sector yang berbeda. Terdeteksinya bad sector, di hampir setiap kasus, secara sederhana berarti ada masalah di permukaan piringannya dan hard disk kehabisan sector cadangannya…

Bagaimana gejalanya?

Jika file gagal disimpan…

Ada beberapa faktor yang menyebabkan file gagal disimpan; seperti biasa, error message(s) adalah hal pertama yang menjadi pangkal investigasi. Ada 2 kasus yang munculnya paling sering, yaitu karena:

  • tidak ada ijin, atau tidak ada hak (menyimpan file di lokasi tersebut),
  • tidak ada alokasi tempat kosong lagi, dengan kata lain, disk full.

By default, umumnya pesan kesalahan atau error message(s) ditampilkan dalam bahasa Inggris; jika kita tahu serba sedikit tentang bahasa ini, maka relatif tak ada kesulitan saat mengidentifikasi sebab masalah.

Jika error messages menyatakan “…permisson denied…” maka bisa dikatakan sebab masalah adalah tidak adanya hak.  Dengan kata lain, orang yang melakukan operasi penyimpanan file tsb tidak punya hak (menyimpan/menulis sesuatu) di lokasi yang bersangkutan.  Cek via perintah pwd untuk memastikan Sdr sedang berada di mana, lalu berikan perintah ls -l .. (2 buah titik, serius).  Perhatikan info kepemilikan dari folder tempat Sdr mencoba menyimpan file tadi.  Perhatikan pula mode folder tsb.  Bisa jadi, Sdr memang benar pemilik folder tsb, tetapi, bila mode folder itu “555”?  Tentu Sdr juga tidak bisa (atau, tidak diperbolehkan lebih tepatnya) menyimpan file apapun di sana.  Catatan: mode “555” berarti setiap pihak hanya punya hak baca dan hak eksekusi; bagi folder, hak baca & eksekusi berarti juga hak untuk melakukan pencarian (searching) di dalam folder yang bersangkutan, sekaligus hak untuk masuk ke dalamnya (jadi, jika Sdr tidak punya hak baca & eksekusi ini secara berpasangan, maka Sdr tidak bisa “cd kesana”.  Hak baca diwakili oleh huruf “r”, sedangkan hak eksekusi diwakili oleh “x”.  Mode “555” akan muncul sebagai “dr-xr-xr-x”.

Nah, bila error messages menyatakan “disk full” atau mungkin “…no space left on the device…” maka artinya tak ada tempat lagi untuk menyimpan file.  Tempat habis, gtu singkatnya.

Solusi jika tempat habis, tentu ganti harddisk 😀  Atau, coba hapus file lama yang tak penting lagi.  Jika masalahnya soal kepemilikan, atau perijinan, coba perbaiki atribut atau mode dari folder tsb (jika Sdr punya akses root tentunya).  Jika masalah atribut ini terjadi di folder home Sdr sendiri (walau ini tak lazim), maka Sdr kemungkinan akan bisa memperbaiki mode tsb sendiri.  Yang penting, periksa info kepemilikannya (via perintah ls -l tadi).  Jika pemiliknya orang lain, atau root maka Sdr harus melibatkan si empunya, atau melibatkan root.

Bagusnya, Sdr bisa melakukan semua pemeriksaan atau investigasi ini dari linkungan kerja grafis alias GUI.  Siapa bilang harus dari text mode…  Tentang caranya, Sdr tentu lebih tahu dibanding saya… 😉

Sekian dulu…