To Do List – Liburan Juni 2012

Libur sudah menjelang… sebenarnya Senin depan 25 Juni sudah mulai, walaupun seperti biasalah, yang libur 100% murid-murid; seperti yang diajarkan oleh teman saya,¬†Libur itu apaaa…?

Kali ini hanya daftar ringkas berisi topik-topik menarik yang saya temukan selama beberapa bulan ini, sebagian kecil saya peroleh jauh lebih lama lagi namun apa daya, belum sempat dieksplorasi mendalam. Topik-topik ini kemungkinan kandidat untuk artikel berikutnya selama liburan –atau setelahnya, jika tidak sempat ūüėą

  1. Raspberry Pi. Barang yang satu ini sudah saya dambakan sejak rilis resmi, Februari lalu; hanya saja, karena –seperti biasalah– di Indonesia mungkin belum ada (paling tidak sampai saat ini) jadinya saya cuma bisa gigit jari. Murah, harga dasarnya $35 saja, mungkin sampai di sini kira-kira (pantasnya) ya $45 maksimum; ini kurang lebih Rp 450.000, masih kuat beli hehe. Tinggal menambah SD card, I/O dan monitor. Entahlah kapan terealisasi, takutnya keburu si duit terpakai untuk keperluan lain-lain. Sumber utama: web resmi Raspberry Pi, Element14, dan RS Components. Yang saya sukai: kecil,¬†mobile, hemat listrik dan murah ūüėÄ
  2. Review tools Windows open source pilihan penunjang produktifitas. Saya kira sampai saat ini pun masih banyak ya pemakai Windows; pemakai Linux pun ada yang masih mempertahankannya walaupun hanya untuk¬†gaming. Sebagai orang yang sesekali masih memakai Windows juga, saya ingin berbagi temuan, yang jujur ¬†saja, beberapa malah belum saya eksplorasi lebih mendalam. Kecil ukurannya, tidak perlu diinstal dan nyata gunanya. Contohnya AutoHotkey; sementara ini silakan saja baca sendiri di web resminya. Bagi yang tertarik melihat daftar lengkapnya, silakan merujuk ke “50 Open Source Tools; Desktop Download“.
  3. Mari menggunakan Git untuk back-up konfigurasi komputer dan data. Nah, meskipun saya sudah lama memakai CVS, tetapi penggunaannya masih sebatas untuk mengelola source code proyek kecil-kecilan (tidak lebih dari proyek berlatih bahasa pemrograman tertentu). Ide menggunakan versioning system untuk back-up data dan konfigurasi komputer sudah beberapa waktu ngendon di kepala; ada baiknya segera dipelajari dan diujicoba kemungkinan implementasinya. Tampaknya Git lebih baik dari CVS.
  4. LaTeX. Hehe, “barang” apa ini? Hm, yang saya inginkan saat ini sekedar mencoba menulis pengalaman saya selama menggunakan LaTeX –saat ini saya masih dan intens memakainya. Tidak untuk menjadi buku yang diterbitkan atau apa sih, hanya sekedar untuk arsip, karena saya mulai sering lupa cara melakukan ini dan itu di LaTeX jadi saya pikir mengarsipkan pengalaman memakai adalah ide yang cukup bagus.
  5. Nah, jangan lupa… bulan Ramadhan sudah di ambang pintu; tidak ada jeleknya berencana atau berniat melakukan satu dua persiapan. Mosok mau liburan saja ada “to do list” tapi menjelang Ramadhan tidak? :mrgreen:

Ini saja dulu, makin banyak nanti makin nggak jelas mana yang akan dieksekusi ūüėÜ

Creative Commons LicenseTo Do List – Liburan Juni 2012 by Fathoni Wahyu Utama, S.Kom is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 Unported License.

Iklan

Insiden di Traffic Light

Ehm, ini bukan prosa semacam cerbung “Tidak Tahukah Kau” milik pak Budi Rahadjo yang terkenal itu (maksud saya pak Budi-nya yang terkenal, kalau cerbungnya, saya kurang pasti hehe). Ini hanya sekedar uneg-uneg saya saat berhenti sejenak di “bangjo” perempatan atau pertigaan atau bahkan perlimaan (kalau perenaman tidak ada ya, mestinya? Too many parameters, haha).

Nah, bangjo alias “abang ijo” (kenapa “kuning” tidak disertakan sih) saya sebut saja sebagai¬†traffic light. Kalau “insiden” itu, apa yah? Menurut beberapa sumber, “insiden” bisa dijabarkan sebagai berikut.

  1. peristiwa (khususnya yg kurang penting dl hubungannya dng peristiwa lainnya yg lebih besar); kejadian. Contohnya: janganlah yg kecil itu sampai menimbulkan kekalutan di masyarakat (sumber: KBBI via arti-kata.com)
  2. incidence(noun), yang bisa berarti:
    1. the rate or range of occurrence or influence of something, especially of something unwanted. Contoh: The high incidence of heart disease in men over 40. Sumber: Dictionary.com
    2. a falling upon, affecting, or befalling; occurrence: Contoh: The incidence of murder that Sunday afternoon shocked the sleepy village. Sumber: Dictionary.com
    3. The act or an instance of happening; occurrence. Contoh: …did not expect criticism and was surprised by its incidence. Sumber: The Free Dictionary.
    4. Extent or frequency of occurrence. Contoh: …a high incidence of malaria in the tropics.¬†Sumber:¬†The Free Dictionary.

Well, apakah itu kejadian yang “diinginkan”atau tidak, relatif, oleh karena itu sengaja saya cetak miring pada contoh definisi menurut KBBI di entri nomor 1. Sebuah insiden tentunya “diinginkan” (bangets) oleh si pelaku, dan sebaliknya, “tidak diinginkan” oleh orang yang tidak melakukannya –ya¬†mosok orang melakukan apa yang tidak dia inginkan?

Memang bisa saja sih, ada orang yang melakukan sesuatu yang tidak dia inginkan, sehingga terjadilah suatu peristiwa… itu istilahnya¬†terpaksa atau¬†dipaksa. Namun saya ragu-ragu, apakah insiden di traffic light yang akan saya ceritakan ini nanti termasuk kategori terpaksa itu, atau sengaja (dan dilakukan dengan “senang hati” malahan). Baca lebih lanjut

Mudah Dipelajari, Mudah Dilupakan?

Kalimat judulnya mirip artikel pak Budi Rahardjo pagi ini, hanya saja ada tambahan koma dan tanda tanya di akhir kalimat. Tetapi ini bukan berarti saya mengetahui jawabannya lho, apalagi jawaban yang valid… ūüėé

Apakah yang menyebabkan kita (relatif mudah) melupakan, atau terlupa materi yang kita pelajari… mungkin belum lama berselang? Apakah semakin mudah sesuatu itu dipelajari maka menjadi semakin mudah pula terlupakan? Beliau menulis begini:

Beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah artikel yang intinya mengatakan bahwa pelajaran yang diberikan melalui media elektronik, seperti dengan menggunakan video, ternyata tidak membuat seseorang belajar. Yang bersangkutan merasa telah mengerti tetapi pada kenyataannya tidak. Apakah ini dapat digeneralisir bahwa sesuatu yang mudah dipelajari ternyata menjadi mudah dilupakan?

Bagaimana ya sebenarnya… ‚Ěď

Mudah lupa terhadap apa yang dipelajari itu, pertama tergantung dari¬†amal perbuatan seseorang hehe… Ada orang yang cenderung mudah lupa, ada yang punya ingatan kuat. Namun mempelajari sesuatu itu tidak hanya¬†mengingatnya khan. Bagi saya pribadi, hal yang membuat mudah lupa itu…

  1. Ketika topiknya baru, atau asing, tetapi hanya saya pelajari secara singkat dan sebentar; ini dijamin akan terlupakan dalam 2 atau 3 hari. Topik yang asing bagi saya, contohnya: masak memasak ūüėÜ
  2. Ketika belajar sesuatu dalam kondisi terpaksa, ditambah lagi: itu hal yang tidak menarik. Hehe tentu saja jika itu menarik, saya kemungkinan besar tidak akan merasa terpaksa. Contoh hal yang tidak menarik dan terpaksa itu… mempelajari cara menyusun RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) atau Promes (Program Semester). Bukan berarti perencanaan itu jelek lho; ini ada ceritanya tersendiri.

Hmm, perasaan sih tidak ada pernah lupa gara-gara itu mudah dipelajari. Mudahnya sesuatu untuk dipelajari itu malah menyenangkan saya kira, dan jika senang, orang cenderung akan semangat. Tidak ada ceritanya orang malah loyo menghadapi sesuatu yang mudah dipelajari…¬†mudah dipelajari dalam arti dia relatif terus bisa mengikutinya. Contoh: kuliah teori bahasa dan otomata, dan sudah menjelang akhir semester dia relatif masih bisa¬†mudheng alias faham penjelasan dosennya, tidak banyak punya pertanyaan yang tidak terjawab (baik oleh dia maupun dosennya).

Tentu saja, mudah memahami itu boleh jadi karena faktor di dalam dirinya sendiri atau karena¬†saking pinternya si dosen; barangkali kombinasi faktor-faktor tersebut. Bagi saya, semakin mudah dipelajari itu sangat sedikit relavansinya dengan mudah terlupakan atau tidaknya; namun kepala orang memang lain-lain sih…

… Dulu saya sering mendengar dari kakak kelas saya di kampus betapa susahnya mereka harus lulus dari sebuah mata kuliah. Dosen-nya galak…

Jaman sekarang lebih mudah lulus, ya khan? Mudah lulus, dalam situasi sebenarnya dia tidak terlalu faham ilmunya, memang akan menjadi masalah. Pemahaman dangkal, praktek kurang, dalam teori hanya pas-pasan saja… eh bisa lulus. Akhirnya mudah lupa, wajar saja. Saya cenderung bukan menyebutnya¬†lupa, tetapi¬†ilmunya hilang. Hehe, sama saja sih ūüėÄ

…Mungkin itu juga yang menyebabkan saya tidak melakukan kultwit. Saya memang khawatir ini akan membuat seseorang merasa telah mengerti sebuah topik, padahal belum…

Ehh, kultwit? Apa itu…

Kuliah (umum) via Twitter? Yaa, kalau nasehat-nasehat umum, menyebarkan hadits atau apalah yang singkat-singkat begitu, cocok saja sih. Hm, tapi untuk teori bahasa dan otomata, hehe, di ruang kuliah nyata saja ya? Setidaknya di ruang virtual e-learning…

Tetapi monggo sajalah, gaya dan kemampuan tiap orang berbeda; dosen juga orang, si murid/mahasiswa juga orang. Saya masih ingat, ada “murid” yang mudah fahamnya itu kalau¬†dicritani langsung alias per¬†oral, dengan lisan; kalau itu praktek,¬†dhong kalau melihat demonya langsung. Di lain pihak, cara saya belajar adalah membaca, membaca dan membaca… serta jika perlu mencoba praktek (sendiri atau pun tim).

Saya menjadi “pening” tiap kali perlu mengajari dia sesuatu; dia berharap saya mengikuti kecenderungan belajarnya, tapi saya sendiri juga berharap dia mau membaca dan mencoba (saya dampingi tentu, tapi mbok ya jangan saya yang praktek lalu dia yang menjadi pengamat haha).

Creative Commons LicenseMenyederhanakan Pengalamatan IP (bagian 2) by Fathoni Wahyu Utama is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 Unported License.

Soal Pengalamatan IP Tipe 1

Soal ujian yang menanyakan tentang pengalamatan IP (versi 4) terdiri dari bermacam jenis. Termasuk yang masih sederhana ialah tipe yang meminta anda mengidentifikasi, IP sekian termasuk ke kelas mana. Atau, memilih jawaban mana yang merupakan jangkauan kelas tertentu.

Satu kesepakatan informal di sini adalah, apabila netmask tidak disebutkan, artinya anda silakan memakai netmask default. Apabila anda tidak mengetahui berapa netmask default, maka anda harus terlebih dahulu mengidentifikasi alamat IP di soal itu, termasuk ke kelas manakah dia? Setelah tahu dia anggota kelas mana maka anda akan bisa menetapkan netmask default.

Berikut ini contoh yang pertama, tipe yang menyuruh anda memilih mana di antara jawaban yang menunjukkan jangkauan IP kelas tertentu.

Range IP address kelas B dimulai dari … hingga …

  1. 126.x.x.x sampai dengan 192.x.x.x
  2. 126.x.x.x sampai dengan 191.x.x.x
  3. 192.x.x.x sampai dengan 254.x.x.x
  4. 10.x.x.x sampai dengan 172.x.x.x
  5. 127.x.x.x sampai dengan 192.x.x.x

(arsip try out TKJ IV-A tahun 2009/2010)

Pada soal di atas ada 5 pilihan; mana di antara kelima pilihan itu yang benar untuk menjawab inti persoalan, “jangkauan alamat IP kelas B”. Tidak ada netmask disebut-sebut di sini, jadi kita anggap seting / ketentuan default yang berlaku.

Sebagaimana sudah diajarkan di artikel terdahulu, yang menentukan kelas IP adalah byte pertama. Dari kiri ke kanan, kelas A tidak mempunyai “1” pada byte pertama itu (dengan kata lain, byte pertama itu semuanya nol). Berturut-turut, kelas B mempunyai satu buah “1”, kelas C punya dua buah “1”, kelas D mempunyai tiga buah “1” dan kelas E punya empat buah “1” (dengan kata lain, byte pertama itu terdiri dari “1” semua).

Ingat kembali tabel jangkauan IP standar setiap kelas.

+-------.--------------.-----------------.------------------+
| Kelas | Byte pertama | Desimal pertama | Desimal terakhir |
+-------+--------------+-----------------+------------------+
|   A   | 0000         | 0               | 126              |
|       |              |                 | 127 (loopback)   |
|   B   | 1000         | 128             | 191              |
|   C   | 1100         | 192             | 223              |
|   D   | 1110         | 224             | 239              |
|   E   | 1111         | 240             | 247              |
'-------'--------------'-----------------'------------------'
                Tabel Range kelas IP yang standar

Kita tidak usah menghafal tabel di atas, cukup mengingat bahwa byte pertama menentukan kelas. Dan, di kelas A, byte pertama ini semua nol; di kelas B, hanya bit terkiri dari byte pertama ini yang bernilai “1”, kelas C mempunyai dua buah bit “1” (yang paling kiri dan sebelah kanannya). Begitu seterusnya.

Nah, yang ditanyakan adalah jangkauan kelas B, berarti mulai dari nilai biner “1000” sampai tepat sebelum “1100“. Dalam desimal, masing-masing angka biner itu nilainya adalah 128 dan (128+64) -1 alias 191 (penjelasan: “1100” itu permulaan kelas C, jadi kalau akhir dari kelas B tentunya sama dengan nilai desimal “1100” dikurangi 1).

Jadi, jawaban yang benar adalah: 128.x.x.x – 191.x.x.x

Rupanya tidak ada opsi jawaban yang benar ūüėÄ

Nah kita akhiri dengan sedikit soal latihan, semuanya tentang identifikasi kelas IP standar.¬† Jawaban dan pembahasannya di artikel setelah ini, insya Allah ūüôā

  1. Identifikasi, alamat-alamat ini termasuk kelas mana!
    1. 172.20.1.111
    2. 192.168.1.104
    3. 10.0.0.1
    4. 8.8.8.8
    5. 180.247.198.1
    6. 74.125.235.80
  2. Manakah sajakah di antara alamat IP berikut ini yang termasuk anggota kelas C?
    1. 168.192.23.45
    2. 192.168.5.77
    3. 74.125.235.80
    4. 192.168.0.0
    5. Semua jawaban salah.

 

Sumber / bahan bacaan:

  1. Artikel Wikipedia Inggris tentang IP address.
  2. Artikel Wikipedia Inggris tentang subnet directed broadcast.
  3. Arsip soal try out TKJ IV-A (pribadi, tidak tersedia online).

Creative Commons LicenseSoal Pengalamatan IP Tipe 1 by Fathoni Wahyu Utama is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 Unported License.

Nyoba aja.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis aute irure dolor in reprehenderit in voluptate velit esse cillum dolore eu fugiat nulla pariatur. Excepteur sint occaecat cupidatat non proident, sunt in culpa qui officia deserunt mollit anim id est laborum.

Well, ini artikel hanya utk testing, apakah saya bisa membuat tampilan paragraf-paragraf artikel saya rata kiri-kanan alias justified melalui metode mengetik naskah dan sekaligus kode HTMLnya. Capeeee dee… ūüėÜ

Yang Bagus dan Inspiratif dari politikana.com

Hm, kiriman yang kesekian kalinya dari ping.fm ūüôā
Saya tidak terlalu tertarik pada politik; terlalu “berat” soalnya (bagi ukuran otak saya). Akan tetapi kadang saya sempatkan juga ke situs politikana.com, tempat banyak orang sebangsa kita menulis artikel politik.
Tidak, tidak cuma artikel politik; ada juga di situ artikel sosial (saya paling suka jenis yang ini). Bukan apa-apa… ūüėČ
Baca yang satu ini: http://ping.fm/eZUvK (terutama kalau anda termasuk pengguna BlackBerry). “Ini Blackberry-ku, mana Blackberry-mu?” demikian judulnya.
“Ekonomi kerakyatan”, kita ingat sepasang capres-cawapres kalau menyebut ini; ada artikel “Ekonomi Kerakyatan untuk keluarga Berdapur Kumuh”. Baca di sini: http://ping.fm/GeaEa

Nah, warna merah tadi muncul jika lebih dari 140 karakter, mending saya stop sekarang juga, udah 1000+ ūüėÄ

Tes Blogging dari ping.fm (lagi)

Well, so far so good, or rather, “not SO good”? Tes kali sebelum ini cukup menggembirakan, berhasil masuk ke FB, bahkan dikirim dari Y!M, via HP lagi ūüėÄ
Tapi sekaligus juga “kurang menggembirakan” karena tidak masuk ke WP. Actually, it’s only “half success”. Kategori blog, di FB artinya “note”.
Pengiriman via Y!M memang tidak selalu berhasil, bahkan beberapa tes terakhir gagal total, tidak masuk mana pun… *sigh*
Hm, indikator jumlah karakter sudah berwarna merah; ada apa ini?