Enaknya ScreenShoter atau ScreenCaster ya?

Sebenarnya sudah beberapa lama saya mencari yang cocok, baik cocok untuk saya maupun cocok dalam arti mendapat aplikasi yang “pas”. Screenshoter pada prinsipnya menangkap gambar (still image, citra yang diam) sedangkan tipe screencaster menangkap video (motion image). Entahlah, yang benar itu “image” (citra) ataukah “picture” (gambar).

Pertama, sebaiknya kenali diri lebih dulu. Lhooo… koq?

Walaupun ada situasi tertentu yang jelas-jelas hanya cocok untuk salah satu jenis di atas tadi, tapi dalam mayoritas pekerjaan kemungkinan cenderung ke salah satu jenis.

Maksudnya begini: bila “pekerjaan” yang ingin dilakukan adalah menulis artikel atau buku, atau jurnal atau apa saja yang sifatnya dokumen tertulis, maka jelas 99% anda butuh screenshoter. Mana ada membuat buku lalu ilustrasinya malah video? Lalu di lain pihak, sekali atau dua kali anda mungkin diminta mengisi seminar; nah mungkin anda butuh screencaster untuk menampilkan video demo produk atau apalah yang lain.

Ini masih terkait terus; suka yang mana? Menulis dokumen (buku, artikel atau semacamnya) atau membuat video? Tentu saja karena tutorial pun sekarang lumayan banyak yang berwujud video. Kesukaan ini akan mempengaruhi jenis pilihan anda. Ketika anda “diwajibkan” atasan untuk, misalnya, membuat video demo produk X, atau video tutorial pemakaian XXX maka jelas, dari namanya saja sudah mengandung “video” –anda perlu screencaster. Jadi? Baca lebih lanjut

Iklan

Konfigurasi Perangkat WiFi RTL819x di Debian Squeeze

Artikel ini kelanjutan dari yang lalu, saat saya butuh agar Compaq Presario CQ42 milik siswa saya ini bisa berfungsi perangkat wireless-nya. Di artikel yang lalu itu, alasan saya menaikkan versi kernel ke 3.2.1 adalah demi mengejar driver kartu WiFi chipset RTL819x (sudah include di dalam kernel 3.2.1).

Sayangnya, setelah kompilasi dan instalasi, perangkat tak kunjung berfungsi; bahkan driver sudah di-load dan (tampaknya) tidak ada masalah di seputar itu. Untuk memeriksa apakah driver sudah di-load, eksekusi lsmod; apabila ada nama “rtl8192se” maka ini tanda positif driver sudah di RAM.

Pemeriksaan terhadap output dmesg menghasilkan detil informasi tambahan yang lebih jelas memberi arah menuju sumber masalah; sesuatu yang terkait dengan firmware.

# dmesg | grep rtl
... rtl8192se 0000:02:00.0: PCI INT A -> GSI 16 (level, low) -> IRQ 16
... rtl8192se 0000:02:00.0: setting latency timer to 64
... rtl8192se: rtl8192ce: FW Power Save off (module option)
... rtl8192se: Driver for Realtek RTL8192SE/RTL8191SE
... Loading firmware rtlwifi/rtl8192sefw.bin
... rtl8192se:rtl92s_init_sw_vars():<0-0> Failed to request firmware!
... rtlwifi:rtl_pci_probe():<0-0> Can't init_sw_vars.
... rtl8192se 0000:02:00.0: PCI INT A disabled

Sejauh ini, rasanya semua langkah sudah diikuti dengan benar; driver sudah ada terbukti aktif atau ada di RAM, paket-paket resmi yang dibutuhkan pun sudah diinstal (wicd, firmware-realtek dan sebagainya) dan apt-get menyatakan paket-paket itu “…is already the newest version“. Tetapi toh masih tersisa “Failed to request firmware” yang sangat menggangu pikiran.

Mungkin firmware yang ada masih “kurang baru” bagi perangkat kerasnya? Baiklah, mungkin lebih baik mencoba cari versi yang lebih tinggi. Menurut catatan resmi paket firmware-realtek di sini, versi tertinggi adalah 0.34 (yang saat ini aktif adalah versi 0.28, punya Squeeze). Baca lebih lanjut

Kernel Vanilla untuk Debian Squeeze

Sebagai pengguna Linux, apa pun distronya, tentu di satu saat kita akan bersentuhan dengan kernel; ini adalah hal yang sangat wajar. Kernel vanilla ialah kernel “segar”, atau source code kernel yang umumnya bisa diperoleh di situs resminya, kernel.org atau di situs-situs mirror.

Kapan seorang pengguna perlu mengutak-atik kernel yang sudah terpasang dengan manis di komputernya? Nah, ini dia saat-saat penting itu:

  • Ketika pengguna menemukan bahwa salah satu perangkat kerasnya tidak didukung di kernel yang aktif saat ini, padahal ia mendapat informasi bahwa (kernel) Linux (yang baru) mendukung perangkat keras tersebut. Arti “tidak didukung di kernel yang aktif” adalah tidak bisa berfungsi.
  • Pada saat pengguna membutuhkan satu atau lebih fitur tertentu dan untuk mengaktifkannya dibutuhkan kompilasi ulang kernel atau bahkan kompilasi kernel versi yang lebih tinggi.
  • Di saat pengguna ingin belajar lebih dalam tentang “jerohan” komputernya, baik dari sisi perangkat keras maupun perangkat lunaknya.

Ketahuilah, bahwa di faktor pertama dan kedua di atas tadi, bisa saja tersedia dalam bentuk driver, yang berarti di dalam file terpisah dari file kernel, atau bisa tersedia secara “built-in”, yang artinya menjadi satu dengan file kernel. Driver harus di-load agar aktif (baik otomatis atau manual), sedangkan yang tersedia secara built-in akan otomatis aktif bersama dengan kernel.

Misalnya saja, di sebuah laptop, perangkat wireless rupanya belum bisa dipakai karena tiadanya dukungan di kernel bawaan CD instalasi, maupun di kernel yang lebih tinggi hasil upgrade. Kernel lama 2.3.32-5-686 dan kernel barunya 2.6.39-bpo.2-amd64 (dari backports, Debian). Kernel baru yang sedang direncanakan dipasang adalah versi stabil terakhir saat ini, yakni 3.2.1 dan langsung diambil dari situs resminya. Ikuti bagaimana di akhir proses nanti akan dihasilkan file paket resmi Debian (format .deb) Baca lebih lanjut

Screencaster Pilihan

Artikel ini adalah lanjutan yang sebelumnya. Sebenarnya niat awal akan saya ceritakan juga program-program yang saya pakai di artikel pertama, namun demi menjaga agar tiap artikel tidak terlalu panjang maka saya pisah-pisahkan seperti ini. Selanjutnya, di artikel akan saya sebut screencaster saja yang sama maksudnya dengan “program-program untuk melakukan screen casting“. Sayangnya, berlawanan dengan niat saya sebelumnya, artikel ini ternyata sangat panjang… 🙄

Ada beberapa tipe screencaster dari segi kelengkapan fiturnya, yang paling sederhana hanya bisa untuk capture (menangkap) secara manual, serta file hasilnya pun hanya berupa still image. Biasanya dalam format JPG, GIF, PNG atau yang lainnya. Program dalam kategori tipe ini tersedia secara luas dan banyak pilihan. Saya memakai ScreenHunter yang free edition, cukup memuaskan. Alternatif yang lain ialah Jet Screenshot, punya fitur upload dan share otomatis (sudah tentu termasuk jatah tempat penyimpannya, di web mereka). Baca lebih lanjut

Berbagi ide: program bantu pembuatan materi belajar berbasis TIK

scuba Apa kabar?

Ini adalah artikel pertama setelah berbulan-bulan miskin ide dan payah dalam manajemen waktu, hehe.. Tapi serius nih, riset memang menyita banyak sumber daya: waktu, tenaga fisik dan pikiran serta uang (ini yang seret biasanya). Di sini saya akan berbagi hasil pencarian saya tentang seluk beluk pembuatan materi belajar berbasis TIK. Meski demikian, perlu diketahui bahwa ini riset pribadi, dan ya, saya juga sadar ini bukan ide baru sebenarnya.

TIK, what is it anyway? Ada yang meyakini itu sebagai Teknologi Informasi dan Komunikasi, tapi juga ada yang menyatakan Teknologi Informasi dan Komputer. Ada lagi, Teknologi Informatika dan Komputer, atau Teknik Informatika dan Komputer (jangan-jangan siy). Well, pilih lah sendiri, saya lebih suka tidak ribut tentang itu.

Paling tidak untuk saat ini… scuba

Baca lebih lanjut

Ah, it seems okay now…

Alhamdulillah. Kekacauan tampilan blog kemarin tampaknya hilang sekarang, setelah tema blog diganti. Saya tidak bermaksud “ngembari” tema blognya seseorang di sini :mrgreen: tetapi cuma mengganti tema secara random dan kebetulan yang sekarang ini membuat masalah kekacauan itu tersembuhkan.. 😎

Tapi kurang tahu juga, apakah setelah saya mengirim sesuatu lagi dari ping.fm keindahan tampilan ini tetap akan ada dan terjaga. Well, tidak akan jelas sebelum dicoba; untuk sementara bersyukur dengan yang ada sekarang. Kita lihat saja nanti…

Eksplorasi Distro Linux: SLAX

Sudah begitu lama tampaknya ya, sejak artikel terakhir saya yang nggak jelas, dan nggak mutu itu :mrgreen:

Well, saatnya membayar janji. Ini artikel pertama dari beberapa rangkaian artikel tentang SLAX (wedew, bikin janji gombal lagi). Pada seri pertama ini saya ulas dulu aspek pendahuluan dan pengenalannya.Ada tiga kata kunci jika melihat judul artikel ini: distro, Linux dan SLAX. Saya berasumsi para pembaca telah cukup tahu apa itu distro Linux, syukur jika ditambah dengan paling tidak pernah mendengar “SLAX”.

SLAX ialah nama distro yang dikembangkan dari Slackware, di mana Slackware itu sendiri juga sebuah distro Linux; salah satu distro mainstream jika boleh saya istilahkan demikian. Yang spesial dari SLAX ini ialah: ia dirancang untuk dijalankan dari USB flashdisk atau CD, singkatnya, dia ini distro live. Ya, memang, seperti distro live yang lain, bisa saja diinstalasikan ke harddisk layaknya distro “normal” atau keluarga Ms. Windows.

Namun sekali lagi, kekhususan itu adalah kekuatan utamanya.

Baca lebih lanjut