Insiden di Traffic Light

Ehm, ini bukan prosa semacam cerbung “Tidak Tahukah Kau” milik pak Budi Rahadjo yang terkenal itu (maksud saya pak Budi-nya yang terkenal, kalau cerbungnya, saya kurang pasti hehe). Ini hanya sekedar uneg-uneg saya saat berhenti sejenak di “bangjo” perempatan atau pertigaan atau bahkan perlimaan (kalau perenaman tidak ada ya, mestinya? Too many parameters, haha).

Nah, bangjo alias “abang ijo” (kenapa “kuning” tidak disertakan sih) saya sebut saja sebagai traffic light. Kalau “insiden” itu, apa yah? Menurut beberapa sumber, “insiden” bisa dijabarkan sebagai berikut.

  1. peristiwa (khususnya yg kurang penting dl hubungannya dng peristiwa lainnya yg lebih besar); kejadian. Contohnya: janganlah yg kecil itu sampai menimbulkan kekalutan di masyarakat (sumber: KBBI via arti-kata.com)
  2. incidence(noun), yang bisa berarti:
    1. the rate or range of occurrence or influence of something, especially of something unwanted. Contoh: The high incidence of heart disease in men over 40. Sumber: Dictionary.com
    2. a falling uponaffecting, or befallingoccurrence: Contoh: The incidence of murder that Sunday afternoon shocked the sleepy village. Sumber: Dictionary.com
    3. The act or an instance of happening; occurrence. Contoh: …did not expect criticism and was surprised by its incidence. Sumber: The Free Dictionary.
    4. Extent or frequency of occurrence. Contoh: …a high incidence of malaria in the tropics. Sumber: The Free Dictionary.

Well, apakah itu kejadian yang “diinginkan”atau tidak, relatif, oleh karena itu sengaja saya cetak miring pada contoh definisi menurut KBBI di entri nomor 1. Sebuah insiden tentunya “diinginkan” (bangets) oleh si pelaku, dan sebaliknya, “tidak diinginkan” oleh orang yang tidak melakukannya –ya mosok orang melakukan apa yang tidak dia inginkan?

Memang bisa saja sih, ada orang yang melakukan sesuatu yang tidak dia inginkan, sehingga terjadilah suatu peristiwa… itu istilahnya terpaksa atau dipaksa. Namun saya ragu-ragu, apakah insiden di traffic light yang akan saya ceritakan ini nanti termasuk kategori terpaksa itu, atau sengaja (dan dilakukan dengan “senang hati” malahan).

Anda pastinya pernah, atau malah sering melihat beberapa insiden seperti yang saya sebut berikut ini –hanya sekedar contoh; ada banyak variasinya.

  1. Lampu sudah mulai menyala kuning dari sebelumnya yang berwarna hijau; jelas-jelas melihat hal itu, ada orang yang malah semakin ngebut. Harapannya jelas: dia bisa melewati persimpangan jalan itu sebelum lampu menjadi merah.
  2. Lampu sudah menyala merah dari sebelumnya kuning; beberapa berhenti, arus dari pihak/jurusan lain mengalir. Ketika mulai (relatif) sepi atau surut, ada yang berani jalan lagi walaupun lampu tadi masih merah. Oponinya jelas: ah, lha yang penting khan sudah tampak sepi.
  3. Entah lampu sedang menyala merah, kuning, hijau atau biru, ada kendaraan yang tetap jalan seperti halnya di jalanan lurus bin mulus; kadang malah belokan ke kanan pun ditempuh (belok kiri langsung sih masih bisa dimaklumi). Cuek beibeh… Kemungkinan opininya seperti ini: halah, asal saya agak pelan-pelan tentu tidak nabrak dan juga tidak ada yang (berani) nabrak; yo ora?

Silakan tambahkan variasinya; ada yang melakukan salah satu dari 3 itu tadi sambil: tidak memakai helm, telon alias boncengan bertiga, sambil zig-zag, sambil tidak menyalakan lampu sein, sambil tidak membunyikan klakson, sambil tidak menyalakan lampu utama… dan lain-lain.

Nah apabila kebetulan itu di jalur yang setiap hari anda lewati (jalur ke tempat kerja misalnya), maka 80% kemungkinan anda bisa mengenali wajah, atau kendaraan mana yang selalu begitu, atau minimal “hampir pasti” melakukannya. Kebiasaan membuat kita akhirnya “hafal” siapa yang melakukan “ini”, siapa yang  melakukan “itu” walau tidak berniat menghafalkannya –kayak kurang kerjaan saja. Dan anehnya, kalau itu saat pagi hari dan sedang ada polisi jaga, tiba-tiba… tidak ada yang melakukannya.

Sebenarnya tidak aneh; mungkin perlu ada minimal 1 polisi jaga di tiap persimpangan? Bukan patung polisi lho ya, tapi polisi beneran, polisi hidup.

Oke, setelah mengamati perilaku para pengguna jalan yang budiman, sekarang beralih kepada traffic light itu sendiri. Kadang kala mati, entah sebagian lampunya atau hanya yang di kiri, atau hanya yang di kanan… atau semuanya mati (bukan karena pemadaman listrik). Bila situasi sudah parah biasanya polisi turun tangan, mengatur lalu lintas secara manual.

Bukan hanya pada kadang mati kadang hidup, ada kalanya timer yang bermasalah; lampu menyala merah lebih lama dari biasanya, atau bahkan “hang”, merah terus… serasa itu belum cukup, ternyata semua jurusan lampunya menyala merah!

Sebenarnya ngapain sih membahas lampu bangjo…

Banyak hal di kehidupan kita yang merupakan miniatur dari banyak hal yang lain. Insiden di traffic light itu cukuplah dianggap sebagai miniatur manajemen negara kita, terutama dalam kaitannya dengan penegakan hukum. Anda bisa perluas sedikit, misalnya, bukan hanya di soal perlampuan tadi, tapi kepada “insiden” sogok-menyogok ketika si pelanggar lampu tertangkap pak polisi…

Kalau sempat diwawancara, mungkin para orang nekat tadi akan menyampaikan beberapa alasan yang masuk akal juga; misalnya:

  1. Halah mas… mumpung masih kuning saja lho; kalau kuning berarti dari arah lain tu masih merah tho… belum boleh jalan tho… Lagian, saya kesusu jhe ini. Sampeyan lupa apa gimana sih pak, bu, mas… Mereka yang dari arah lain juga punya “ide cemerlang” yang serupa. Lampu kuning dari arah sampeyan khan bisa jadi terlihat dari arah lain (apalagi malam, dan ada daun-daun pohon di dekat lampu, sip dah). Mereka punya ide: Aha! Sudah kuning ini, yok jalan aja, toh itu kelihatan sepi juga, gak ada yang melintas… Ya sekarang tidak ada pak, tapi sampeyan berdua kemungkinan rendezvous di tengan-tengah persimpangan nanti; apalagi dari arah yang lampunya kuning ke merah malah semakin ngebut… Do you really want a rendezvous with Izrail that badly?
  2. Aku kiy lagi kesusu mas, wis pokoknya ini harus segera sampai… Sampai ke mana, ke akhirat? Lha wong nggak ngebut aja (masih) bisa benjut, sampeyan malah ngebut di persimpangan demi karena lampunya masih kuning. Celakanya orang di jalanan itu kalau nggak ditabrak, ya karena nabrak… Sudah tho, diem berhenti saja bisa kena tabrak lho, hehe..😈
  3. Wah lha ini hujan terus saya lupa nggak bawa jas hujan jhe… terus wae lah, kalau berhenti bisa kuyup ini nanti, bisa sakit flu dan demam, repot! Bukannya mending berhenti/berteduh saja? Lebih selamat… nggak sakit, nggak kepleset, nggak nabrak orang… walaupun ada kemungkinan kuecuillll.. akan ditabrak orang. Jangan-jangan sampeyan sudah lupa jas hujan terus kesusu juga ada keperluan maha penting seperti orang tadi? Weh piye tho, kalau hendak keluar rumah, mbok sempatkan dikit saja untuk mengingat ini lagi musim apa, gitu lho.
  4. Mas…, mas… sampeyan kiy lho, ngapain ribet-ribet. Intine ada kesempatan, lha ya sudah toh, dimanfaatkan saja. Tuh kelihatan sepi, jalan aja terus nggak akan ada apa-apa; kalau agak takut, ya pelanin sedikit nggak apa-apa, beres pasti… Sedikit ya pak; berapa? Dari 80 km/jam ke 70 km/jam yaaa…😎

Kalau hendak menulis contoh lain, bisa banyak ini nanti; males ah…😀

Seperti itulah kita ketika berhadapan dengan regulasi atau peraturan, atau hukum. Di mana saja, kapan saja… ketika situation calls for it… yea, mari kita lakukan dengan sungguh-sungguh agenda kita. Yang penting punya alasan khan; hanya orgil yang melakukan sesuatu tanpa faham alasannya. Atau, orgil punya motiv nggak sih? Entahlah, belum pernah menjadi orgil…😆

Lebih baik lagi kalau punya alasan dan duit –sekedar jaga-jaga, siapa tahu… Bagi saya, hm, melanggar itu yaa… boleh saja; tapi kalau urusan jalan mending tidak deh. Resikonya itu yang saya tidak berani. Saya tentu pernah “melanggar” trafic light juga🙂

Tapi begini sodara-sodara, kalau bukan urusan hidup-mati, sebaiknya patuhi sajalah lampu-lampu itu; kasihan mereka. Sedang jalan kembali ke kantor dari makan siang di luar? Sedang pulang dari kantor dan di rumah ada tamu penting? Tamu penting pun bisa diminta menunggu,  lha daripada beresiko tidak bisa ketemu dengan kita? Apalagi bukan tamu penting. Apalagi tidak ada tamu. Apalagi jika benar-benar tidak ada apa pun juga…

Padahal, kalau pas melanggar sampeyan set motor ke 20 km/jam saja masih bisa celaka; yang ketabrak orang lah, yang kepleset lah. Berhenti mak jegreg pun bisa saja lho jatuh ke samping kanan atau kiri. Hayoo, piye jal gitu itu…

Maksud saya adalah pada aspek ikhtiarnya, atau pada sisi aksi kita. Logikanya, kalau kita berhenti saja masih bisa celaka, apalah lagi kalau ngebut? Ngebut saja juga bahaya lho walau tidak dalam posisi melanggar. Inget nggak nasehat ortu, jangan ngebut yo Le, Ndhuk. Mana ortu mengaitkan ngebut dengan bangjo? Ngebut di jalan lurus saja discouraged

Kalau anda merasa orang yang (relatif) patuh aturan lalu lintas, sangat jarang melanggar, maka pertahankan itu… walaupun sambil senewen terhadap pemerintah. Mengapa? Yaa, karena nggak bisa seperti luar negeri di film-film itu (soalnya tahu itu cuma dari film, padahal film kiy cenderung apus-apus alias bo’ongan).

Lampu lalu lintas ada kamera dan sensornya. Kamera berfungsi menangkap plat kendaraan yang melanggar lampu maupun melanggar batas kecepatan (jadi kamera tidak cuma ada di sekitar traffic light). Belum cukup, kameranya terhubung dengan server pusat sehingga data dan kendali semuanya terintegrasi. Sensornya bisa mendeteksi arah jalur mana yang ramai dan mana yang sepi; lama lampu menyala diatur sesuai proporsi ramai tidaknya kendaraan.

Haaa… kapan ya, di Indonesia?

Uh, tetap akan cuma mimpikah❓

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s