Mudah Dipelajari, Mudah Dilupakan?

Kalimat judulnya mirip artikel pak Budi Rahardjo pagi ini, hanya saja ada tambahan koma dan tanda tanya di akhir kalimat. Tetapi ini bukan berarti saya mengetahui jawabannya lho, apalagi jawaban yang valid…😎

Apakah yang menyebabkan kita (relatif mudah) melupakan, atau terlupa materi yang kita pelajari… mungkin belum lama berselang? Apakah semakin mudah sesuatu itu dipelajari maka menjadi semakin mudah pula terlupakan? Beliau menulis begini:

Beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah artikel yang intinya mengatakan bahwa pelajaran yang diberikan melalui media elektronik, seperti dengan menggunakan video, ternyata tidak membuat seseorang belajar. Yang bersangkutan merasa telah mengerti tetapi pada kenyataannya tidak. Apakah ini dapat digeneralisir bahwa sesuatu yang mudah dipelajari ternyata menjadi mudah dilupakan?

Bagaimana ya sebenarnya…❓

Mudah lupa terhadap apa yang dipelajari itu, pertama tergantung dari amal perbuatan seseorang hehe… Ada orang yang cenderung mudah lupa, ada yang punya ingatan kuat. Namun mempelajari sesuatu itu tidak hanya mengingatnya khan. Bagi saya pribadi, hal yang membuat mudah lupa itu…

  1. Ketika topiknya baru, atau asing, tetapi hanya saya pelajari secara singkat dan sebentar; ini dijamin akan terlupakan dalam 2 atau 3 hari. Topik yang asing bagi saya, contohnya: masak memasak😆
  2. Ketika belajar sesuatu dalam kondisi terpaksa, ditambah lagi: itu hal yang tidak menarik. Hehe tentu saja jika itu menarik, saya kemungkinan besar tidak akan merasa terpaksa. Contoh hal yang tidak menarik dan terpaksa itu… mempelajari cara menyusun RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) atau Promes (Program Semester). Bukan berarti perencanaan itu jelek lho; ini ada ceritanya tersendiri.

Hmm, perasaan sih tidak ada pernah lupa gara-gara itu mudah dipelajari. Mudahnya sesuatu untuk dipelajari itu malah menyenangkan saya kira, dan jika senang, orang cenderung akan semangat. Tidak ada ceritanya orang malah loyo menghadapi sesuatu yang mudah dipelajari… mudah dipelajari dalam arti dia relatif terus bisa mengikutinya. Contoh: kuliah teori bahasa dan otomata, dan sudah menjelang akhir semester dia relatif masih bisa mudheng alias faham penjelasan dosennya, tidak banyak punya pertanyaan yang tidak terjawab (baik oleh dia maupun dosennya).

Tentu saja, mudah memahami itu boleh jadi karena faktor di dalam dirinya sendiri atau karena saking pinternya si dosen; barangkali kombinasi faktor-faktor tersebut. Bagi saya, semakin mudah dipelajari itu sangat sedikit relavansinya dengan mudah terlupakan atau tidaknya; namun kepala orang memang lain-lain sih…

… Dulu saya sering mendengar dari kakak kelas saya di kampus betapa susahnya mereka harus lulus dari sebuah mata kuliah. Dosen-nya galak…

Jaman sekarang lebih mudah lulus, ya khan? Mudah lulus, dalam situasi sebenarnya dia tidak terlalu faham ilmunya, memang akan menjadi masalah. Pemahaman dangkal, praktek kurang, dalam teori hanya pas-pasan saja… eh bisa lulus. Akhirnya mudah lupa, wajar saja. Saya cenderung bukan menyebutnya lupa, tetapi ilmunya hilang. Hehe, sama saja sih😀

…Mungkin itu juga yang menyebabkan saya tidak melakukan kultwit. Saya memang khawatir ini akan membuat seseorang merasa telah mengerti sebuah topik, padahal belum…

Ehh, kultwit? Apa itu…

Kuliah (umum) via Twitter? Yaa, kalau nasehat-nasehat umum, menyebarkan hadits atau apalah yang singkat-singkat begitu, cocok saja sih. Hm, tapi untuk teori bahasa dan otomata, hehe, di ruang kuliah nyata saja ya? Setidaknya di ruang virtual e-learning…

Tetapi monggo sajalah, gaya dan kemampuan tiap orang berbeda; dosen juga orang, si murid/mahasiswa juga orang. Saya masih ingat, ada “murid” yang mudah fahamnya itu kalau dicritani langsung alias per oral, dengan lisan; kalau itu praktek, dhong kalau melihat demonya langsung. Di lain pihak, cara saya belajar adalah membaca, membaca dan membaca… serta jika perlu mencoba praktek (sendiri atau pun tim).

Saya menjadi “pening” tiap kali perlu mengajari dia sesuatu; dia berharap saya mengikuti kecenderungan belajarnya, tapi saya sendiri juga berharap dia mau membaca dan mencoba (saya dampingi tentu, tapi mbok ya jangan saya yang praktek lalu dia yang menjadi pengamat haha).

Creative Commons LicenseMenyederhanakan Pengalamatan IP (bagian 2) by Fathoni Wahyu Utama is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 Unported License.

3 responses to “Mudah Dipelajari, Mudah Dilupakan?

  1. ini nih yg tepat “Saya menjadi “pening” tiap kali perlu mengajari dia sesuatu; dia berharap saya mengikuti kecenderungan belajarnya, tapi saya sendiri juga berharap dia mau membaca dan mencoba (saya dampingi tentu, tapi mbok ya jangan saya yang praktek lalu dia yang menjadi pengamat haha).”

    hahaha males ngajarin linux ya… *kena deh

    • iyok…😆

      Pada dasarnya karena eyke tipe sole/self learner… jadi maunya sih orang lain juga begitchu…😎

      Hal mendasar dari yang paling dasar knp ga betah or ga cucok jadi guru itu ya karena kejelekan yang satu ini.. *sigh*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s