Screencaster Pilihan

Artikel ini adalah lanjutan yang sebelumnya. Sebenarnya niat awal akan saya ceritakan juga program-program yang saya pakai di artikel pertama, namun demi menjaga agar tiap artikel tidak terlalu panjang maka saya pisah-pisahkan seperti ini. Selanjutnya, di artikel akan saya sebut screencaster saja yang sama maksudnya dengan “program-program untuk melakukan screen casting“. Sayangnya, berlawanan dengan niat saya sebelumnya, artikel ini ternyata sangat panjang…šŸ™„

Ada beberapa tipe screencaster dari segi kelengkapan fiturnya, yang paling sederhana hanya bisa untuk capture (menangkap) secara manual, serta file hasilnya pun hanya berupa still image. Biasanya dalam format JPG, GIF, PNG atau yang lainnya. Program dalam kategori tipe ini tersedia secara luas dan banyak pilihan. Saya memakai ScreenHunter yang free edition, cukup memuaskan. Alternatif yang lain ialah Jet Screenshot, punya fitur upload dan share otomatis (sudah tentu termasuk jatah tempat penyimpannya, di web mereka).

Karena keduanya tidak tersedia untuk platform Unix-like, maka saya pakai program lain ketika bekerja di Linux. Ada lebih banyak pilihan, favorit saya di KDE ialah KSnapshot atau gnome-screenshot kalau pas di GNOME.

Sementara program-program di atas hanya mampu menghasilkan file image (atau “citra”) tunggal per sekali proses, ada tipe lain yang lebih canggih. Mereka menyediakan:

  1. fiturĀ single capture,
  2. fitur timed capture,
  3. fitur input-driven capture,
  4. fitur anotasi (atau annotation istilah aslinya),
  5. fitur export hasil akhir ke berbagai format.

Fitur pertama telah jelas, ini sama dengan tipe screencaster paling primitif tadi. Fitur kedua, seperti tersirat dari namanya, melakukan proses capture selama waktu tertentu yang telah diset sebelumnya. Ini bisa berarti “selama sekian menit saja” atau bisa berarti “berkelanjutan sampai dengan dihentikan secara manual namun dalam FPS tertentu yang telah diset sebelumnya“. Fitur ketiga berarti melakukan proses capture ketika ada gerakan mouse dan/atau input dari keyboard. Fitur keempat, menambahkan informasi yang kita buat sendiri ke tampilan tertentu; bentuk informasinya bisa kombinasi dari teks, grafis, atau audio. Fitur terakhir sangat berguna dari segi keluwesan, mengingat sering kali program non open source punya format internal yang tidak standar dan tidak terbuka. Sebuah program yang hebat tetapi hanya bisa memutar hasilnya di program itu sendiri, bukanlah program yang hebat. Apalagi, dalam situasi tertentu file hasil diinginkan agar tersebar seluas mungkin, jelas butuh format khusus yang cocok untuk itu, misalnya FLV.

Untuk kategori level yang lebih canggih ini saya memakai beberapa program, yakni Wink, CamStudio. Di Linux, ada beberapa alternatif juga: XVidCap, Cankiri tetapi so far, hanya XVidCap yang pernah saya coba sehingga saya tak pasti tentang fitur Cankiri. Sebelum saya ulas detil tiap program tersebut, ada beberapa catatan:

  • Wink tersedia pula untuk Linux walaupun sifatnya close source, tapi karena development tampaknya diprioritaskan di paltform Windows maka ada beda cukup jauh antara kedua versinya.
  • CamStudio di sisi lain sifatnya open source, that is, source code tersedia, tetapi entrinya di Wikipedia hanya menyebutkan “Operating system Microsoft Windows” yang berarti tidak tersedia untuk Linux (ini cocok dengan entrinya di SourceForge yang tak menampakkan tanda adanya rilis untuk Linux). Catatan lain: walau lisensinya dinyatakan GPL namun di situsnya sini orang yang bertanggung jawab atas program ini menyatakan:

There are no royalties or any monies to pay – although if you do use it for a commercial product, I wouldn’t say no to a copy of whatever you produce.

  • XVidCap kontras dengan Wink, berlisensi GPL yang berarti tersedianya source code tetapi (sejauh ini) tidak ada rilis untuk platform Windows. Di FAQ-nya ada satu poin yang membahas ini, saya kutipkan pertanyaan dan jawaban yang ada di situ:

Are there plans to port xvidcap to Windows?

No.
Well, not that I wouldn’t think such a port worthwhile, but it’s so far at the end of the priority list that it will probably never happen, unless a skilled Windows programmer wants to join the project for explicitly that reason.
After all, there are available tools for Windows, albeit typically not for free, like: Lotus ScreenCam, Camtasia, etc.

Baiklah, saatnya membahas agak detil lagi satu per satu. Tetapi tidak termasuk detil cara penggunaannya; mungkin tentang hal tersebut di lain artikel saja.

ScreenHunter

Fungsi dan fitur utama: single screen capture. Versi yang free ini hanya sekali capture per aksi, disimpan di satu file. Kita bisa set delay waktu jika situasi memang membutuhkan itu, tetapi tetap saja cuma satu kali capture manual, satu file hasil (ditawarkan 3 format: BMP, JPG atau GIF).

Area yang ditangani: ada tiga macam; rectangular area, active window atau full screen. Karena per aksi dilakukan secara manual, kita bisa pindah moda pada saat diperlukan. Misalnya, setelah capture sepotong tertentu bagian dari layar, lalu ganti ke moda full screen, maka aksi berikutnya akan menjadikan layar sepenuhnya sebagai obyek proses capture.

Penamaan file hasil: otomatis dan berdasar preset tertentu, dilengkapi juga dengan penambahan nomor/angka urut yang bisa diset mulai dari besaran tertentu serta jumlah digit yang bebas; misal, dikehendaki 3 digit dan mulai dari “007”.

Metode aksi: sekali dieksekusi program akan menunggu di belakang layar dan bekerja jika shortcut ditekan (secara default tombol F6). Karena satu kali capture per satu kali penekanan shortcut, kita perlu selalu menekan shortcut jika ingin melakukan capture; dengan kata lain, moda manual.

Fitur minor: pemberitahuan tiap kali proses capture selesai dilakukan; bisa memilih beberapa alternatif bentuk pemberitahuan: munculnya kotak pesan, suara atau kombinasinya. Fitur ini bisa dinon-aktifkan. Selain disimpan ke file bisa pula disimpan di buffer atau di clipboard. Fitur ini juga bisa dimatikan jika tidak dikehendaki.

Lisensi dan kenyamanan penggunaan: freeware, closed source, penggunaan bebas dan tidak terbatas untuk personal maupun komersial. Tidak disebut tentang distribusinya, tetapi tidak saya temukan pembatasan, jadi asumsi saya bebas dan tidak terbatas pula distribusinya (selama tidak dikomersialkan). Nyaman digunakan, memenuhi tugas pokok minimumnya. Tidak ada nag screen, peringatan untuk membeli versi plus atau pro dan hal semacam itu.

Kelebihan & kekurangan: saya tulis per item bernomor, dan berpasangan jika memungkinkan.

  1. Ringkas, simple. Sekali tekan shortcut maka capture akan dilaksanakan. Cocok jika hanya sesekali ingin melakukan capture, Ā tak cocok diterapkan pada proses yang berkelanjutan padahal kita ingin merekam keseluruhan proses tersebut.
  2. File program relatif kecil & portabel. Maksud dari “portabel” di sini ialah, tidak mengusik registry Windows, jadi mudah dipakai di sistem yang drive C-nya dijaga oleh DeepFreeze, misalnya.
  3. Membutuhkan program lain jika ingin mengolah file hasilnya ke bentuk motion picture, misal ke SWF atau FLV. Namun cukup bagus jika kita memang menginginkan bahan “mentahnya” (yakni file still image tadi).
  4. Fitur-fitur penting yang tak tersedia (atau hanya tersedia di versi yang berbayar) antara lain: watermark, pemberian anotasi, dan setelan kualitas JPG, PNG atau GIF file hasil.

Situs web dan info lain: dibuat oleh Wisdom Software, Inc dan bisaĀ download dari sini, dan bandingkan antara versi free, plus dan pro di sini.

Jet Screenshot

Fungsi dan fitur utama: single screen capture, quick upload and share. Fitur share bisa dipilih via web atau FTP, yang jika ke web berarti ke situs layanan sharing mereka, jika FTP bisa kita set ke server FTP kita sendiri (atau yang lain termasuk server mereka). Pendaftaran akun sharing ini gratis, kuota penyimpanan tidak disebut. Selain itu, hasil capture bisa disimpan di file lokal.

Area yang ditangani: bisa salah satu dari full screen, rectangular area, ambil dari clipboard atau dari window tertentu. Karena manual, maka tiap kali akan melakukan capture kita bisa memilih salah satu moda di atas, tersedia shortcut untuk masing-masing moda tersebut.

Penamaan file hasil: otomatis tapi tak bisa kita set, polanya telah ditetapkan secara internal. Tampaknya memakai tanggal dan jam sebagai bagian dari nama file. File bisa disimpan dalam format JPG atau PNG, dan tersedia seting kualitas file untuk format JPG.

Metode aksi: sekali dieksekusi program akan bekerja di belakang layar, tekan shortcut untuk mengaktifkan moda tertentu lalu proses capture bisa dilakukan. Kita akan langsung dibawa ke editor sederhana untuk menambah tulisan atau apapun, lalu segera bisa langsung share ke web, FTP atau simpan ke file (tergantung seting). Editor menyediakan 3 warna dasar (RGB), kotak untuk membuat text area, membuat garis atau elips. Tersedia undo. Sebagai tambahan, demikian proses tersebut selesai, URL menuju lokasi file hasil langsung tersedia di clipboard sehingga bisa langsung melakukan paste jika perlu.

Fitur minor: menyediakan URL ke lokasi file hasil dan langsung telah berada di clipboard; URL ini bisa diset formatnya, salah satu dari: format forum, chat atau blog.

Lisensi dan kenyamanan: freeware, close source. Hanya tersedia untuk platform Windows. Nyaman dipakai, sederhana dan mudah difahami.

Kelebihan dan kekurangan: isu yang pokok ialah tidak tersedianya versi Linux, sehingga Ā mengurangi keluwesan; jika kita tidak berada di Windows maka masih dimungkinkan untukĀ sharing tapi agak repot, yakni kita upload manual (dengan asumsi sudah punya akun di sana). Kelebihan yang patut disebut mungkin tentang keseimbangan dalam menentukan fitur lokasi penyimpanan; orang tidak dipaksa untuk selalu menggunakan jasa penyimpanan mereka yang berarti harus selalu terhubung ke internet. Patut difahami bahwa tugas pokoknya memang hanya single capture, still image. Jangan berharap file hasil berupa animasi flash atau AVI, ini di luar deskripsi kemampuannya. Serupa dengan ScreenHunter, ukurannya kecil, bahkan lebih kecil: 2.24 MB dan portabel juga. Namun demikian, saya belum mencoba bagaimana cara share via web tetapi server web saya sendiri; di bagian seting, ini bisa kita ubah ke server web kita sendiri.

Situs web dan info lain: dibuat oleh ArcticLine Software, bisaĀ download di sini.

Wink

Fungsi dan fitur utama: program bantu pembuatan tutorial dan presentasi. Program ini lebih dari sekedar mengambil screenshot seperti dua contoh sebelumnya; program ini menyediakan fitur-fitur post-capture dan hasil akhirnya memang motion picture. Gerakan mouse, input dari keyboard dan suara dikombinasikan ke file hasil, termasuk anotasi di frame tertentu yang kita kehendaki.

Area yang ditangani: mulai dari full screen sampai berbagai ukuran yang fix maupun yang bisa kita set sendiri. Di antaranya, 1024×768, 800×600 piksel hingga yang terkecil 400×300 piksel. Sekali lagi, ada pilihan custom rectangle, sangat luwes. Namun dalam satu project, sekali kita tetapkan maka ini tidak bisa kita ubah lagi.

Penamaan file hasil: setiap file individual yang dihasilkan tersimpan secara kolektif menjadi satu dengan file project, dan (sayangnya) format file project ini tidak terbuka sehingga saya pikir susah kalau ingin mengekstrak file hasil capture secara individual. Namun jika hanya satu atau dua frame bisa dengan mudah via mekanisme copy –Ā paste (yang tidak efisien jika kita ingin mengambil banyak). FileĀ project berekstensi “wnk“.Ā Sedang file hasil yang sebenarnya tergantung pilihan kita, ada banyak tawaran: PDF, Flash (yakni SWF lengkap dengan HTML-nya), PS atau bahkan EXE. Format Flash cocok jika akan disebarkan melalui web sementara format PDF cocok jika akan dicetak.

Metode aksi: program mulai dengan menanyakan moda yang kita inginkan, yakni area yang ditangani dan salah satu dari: single capture, timed capture atau input-driven capture. Bisa berpindah-pindah moda. Proses akan terus berlangsung sampai dihentikan manual, lalu kita akan masuk ke tahap post-capture. Di tahap ini kita bisa menambahkan anotasi, suara dan mengedit apa yang perlu diedit di frame-frame yang dihasilkan. Bisa ditambahkan juga tombol navigasi sehingga hasil akhir nanti terasa lebih interaktif. Jika telah dirasa cukup melakukan editing, selanjutnya proses render dan akan dihasilkan file EXE, SWF, PDF atau PS (tergantung seting kita).

Lisensi dan kenyamanan: program ini freeware, close source. Tersedia versi bagi Linux walau pun tertinggal dari segi fitur. Bebas dipakai untuk personal maupun komersial, namun untuk distribusi perlu ijin pembuatnya terlebih dahulu. So far, program ini yang paling komplit dan sesuai dengan yang saya cari dari mula. Fitur kuncinya: anotasi teks, suara dan grafis serta kemampuan menghasilkan file akhir dalam berbagai macam format (bahkan EXE juga). Nyaman dipakai dan memenuhi hampir semua yang saya cari.

Kelebihan dan kekurangan: banyak kelebihannya, terutama karena so far, inilah satu-satunya program freeware yang lengkap. Semua proses bisa dilakukan dari satu program ini saja. Yang saat ini saya ketahui, belum ada program serupa di Linux dalam hal kesamaan fitur & metode pendekatannya. Sedangkan kekurangannya yang jelas ada dua: versi Linux yang ketinggalan, dan kemandulan saat berada di moda input-driven jika obyeknya adalah jendela command line Windows. Saya tak tahu mengapa, yang jelas input keyboard terekam sempurna dengan satu syarat: yang kita sedang rekam bukan aktifitas keyboard di jendela command line (yang bisa anda munculkan dengan menjalankan “cmd” dari StartMenu – Run). Ini benar-benar sangat menggangu (kadang). Akan lebih bagus lagi jika bisa mengeksport ke format FLV, tetapi ini toh bukan isu besar, kita bisa lakukan konversi dengan bantuan program lain.

Situs web dan info lain: program ini dibuat oleh Satish Kumar, DebugMode dan bisa download di sini.

CamStudio

Well, sebenarnya yang satu ini tidak harus dipakai tiap saat. Faktanya, jika kita telah merasa cukup dengan hasil akhir berupa file Flash misalnya, maka jelas program ini tidak perlu dipakai. Tapi ada saat di mana kita butuh hasil akhir berupa format lain, AVI misalnya. Sayang, hanya dua buah format yang mampu ditangani program ini: AVI atau SWF.

Fungsi dan fitur utama: video capture. Maksudnya, program ini cenderung dirancang untuk capture (atau “merekam”) aksi live. Memang kita bisa saja berhenti sementara untuk lanjut lagi setelah itu. Jika harus mendeskripsikan dengan perbandingan ialah serupa dengan Wink saat di moda timed capture, that is, kita diam atau kita lakukan sesuatu, perekaman tetap akan jalan terus sampai kita hentikan manual.

Area yang ditangani: ada tiga macam yakni full screen, fixed region atau region. Tipe area fixed region dan region rasanya telah jelas bedanya; kita bisa memindah atau menggeser area yang direkam kalau di moda region. Di tiap sudut ada garis hijau tebal yang memberi tahu kita area mana sebenarnya yang sedang kita rekam.

Penamaan file hasil: demikian kita tekan tombol stop untuk menghentikan perekaman, atau melalui shortcut, kita akan langsung dihadapkan ke dialog penyimpanan file. Dalam hal ini seting format file hasil adalah AVI (default). Jika kita set ke SWF, maka akan dijalankan lagi program konverter (bagian dari CamStudio juga) untuk mengubahnya ke SWF. Kita bisa set apakah file AVI dihapus setelah konversi tuntas, atau dibiarkan tetap ada. Kita bisa pula set penamaan file hasil menjadi automatic yang dalam hal ini akan memakai tanggal dan jam saat perekaman dilakukan.

Metode aksi: setelah dijalankan kita bisa segera tekan tombol record untuk memulai, tombol pause untuk menghentikan proses sejenak atau tombol stop untuk mengakhiri perekaman. Saat mulai merekam, kursor mouse akan berubah menjadi pena yang artinya kita diminta menentukan dulu area perekaman; tergantung seting sebelumnya maka ini bisa saja seluruh layar, sebagian layar, atau sebagian layar yang bisa digeser ke sana ke mari. Semua tombol bisa diganti dengan shortcut dan jendela CamStudio bisa diatur agar langsung tersembuyi (ke system tray yang di pojok kanan bawah itu) agar tidak ikut terekam. File hasil bisa dipilih di antara 3 kemungkinan: AVI, SWF atau dua-duanya (yakni jika kita pilih SWF sebagai hasil akhir tapi kita set agar AVI yang dihasilkan tidak dihapus).

Fitur minor: CamStudio bisa menambahkan anotasi dalam skala tertentu; maksud saya yang sekedarnya saja. Jika ingin hampir tiap frame diberi anotasi atau ada banyak titik dalam rekaman yang perlu anotasi, sebaiknya jangan gunakan ini. Plus, walau bisa menghasilkan SWF tapi program ini tak bisa memberi fitur pause pada SWF yang dihasilkan.

Lisensi dan kenyamanan: open source, atau free software, jadi source code program tersedia. Tetapi catatan di atas tadi perlu diingat, walau jika anda menanyakan opini saya pribadi, saya katakan itu non sense. Tak ada batasan atau larangan untuk menjualnya. Tapi saya memang belum memeriksa apakah video yang dihasilkan termasuk kategoriĀ derived works yang dinyatakan oleh GPL. Sejauh pengalaman saya program ini nyaman digunakan; being a fully free software as free in freedom dictated by GPL, there are no nag screen or any other ads whatsoever…šŸ˜Ž

Kekurangan dan kelebihan: telah disebut tadi, bahwa kekurangan utama mungkin pada ketiadaan fitur untuk menambahkan pause pada file SWF yang dihasilkan. Apa artinya ini? Artinya file hasil akan tetap berupa film yang berjalan tanpa henti, kecuali kita pause via video player. Hal ini akan terasa mengganggu karena walau pun kita bisa menambah anotasi, film akan tetap terus berjalan kecuali kita campur tangan langsung. Namun isu ini bisa saja kita anggap wajar, sebagaimana sebuah pure video capture tool umumnya. Program ini cocok untuk perekaman akhir. Yakni ketika file SWF atau FLV tak mungkin dipakai; misalnya, kalau ingin didistribusikan untuk pemakai yang tak punya akses ke komputer. Jika yang ada hanya VCD player, maka program ini bisa membantu; putar saja SWF yang dihasilkan Wink di browser yang full screen lalu rekam dengan ini. Konversi AVI yang dihasilkan ke format VCD lalu distribusikan. Well, konversi memang masih perlu program lain lagišŸ˜†

Situs web dan info lain: situs utama ada di http://camstudio.org dan download bisa via link ini.

Artikel selanjutnya saya rencanakan membahas contoh pemakaiannya dan beberapa hal lain. Tapi ini tidak akan terwujud kecuali setelah lebaran depan, well, jika ada sisa umur yang cukup untuk ke sana tentunyašŸ˜‰

emo_dadah

5 responses to “Screencaster Pilihan

  1. mas, sori nih baru komeng,.. klo mas sendiri menggunakan screencaster buat apa mas? IMO program jenis ini manfaatnya banyak,… salah satu bisa bikin video tutorial software. Hasilnya ntar kan bisa dijual..šŸ˜‰

  2. karena panjang. ki luweh apik di gawe videone wae mas, screencast. nek gak yo cukup podcast sek gur muni audione tok. Mayan iso dirungokne karo mangkat sekolah po kerjošŸ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s