Eksplorasi Distro Linux: SLAX

Sudah begitu lama tampaknya ya, sejak artikel terakhir saya yang nggak jelas, dan nggak mutu itu:mrgreen:

Well, saatnya membayar janji. Ini artikel pertama dari beberapa rangkaian artikel tentang SLAX (wedew, bikin janji gombal lagi). Pada seri pertama ini saya ulas dulu aspek pendahuluan dan pengenalannya.Ada tiga kata kunci jika melihat judul artikel ini: distro, Linux dan SLAX. Saya berasumsi para pembaca telah cukup tahu apa itu distro Linux, syukur jika ditambah dengan paling tidak pernah mendengar “SLAX”.

SLAX ialah nama distro yang dikembangkan dari Slackware, di mana Slackware itu sendiri juga sebuah distro Linux; salah satu distro mainstream jika boleh saya istilahkan demikian. Yang spesial dari SLAX ini ialah: ia dirancang untuk dijalankan dari USB flashdisk atau CD, singkatnya, dia ini distro live. Ya, memang, seperti distro live yang lain, bisa saja diinstalasikan ke harddisk layaknya distro “normal” atau keluarga Ms. Windows.

Namun sekali lagi, kekhususan itu adalah kekuatan utamanya.

Latar belakang eksplorasi saya ini adalah pencarian saya atas sebuah distro Linux yang cocok digunakan bagi siswa-siswa saya menuntaskan tugas akhir mereka. Kondisi kami waktu itu:

  1. Butuh 1 media penyimpan untuk instalasi, konfigurasi dan pemakaian normal sebuah sistem operasi GNU/Linux; 1 untuk tiap siswa.
  2. Ada 2 kelas dengan 2 laboratorium yang dipakai bergantian dengan warga kelas lain, serta dengan siswa lain yang topik tugas akhirnya berbasiskan Ms. Windows. Kesimpulan: adanya mobilitas yang sangat tinggi; tiap siswa perlu bisa mengerjakan eksperimennya tanpa terikat di PC tertentu dan di laboratorium tertentu.
  3. Mobilitas di laboratorium sekolah diperluas dengan situasi bahwa, siswa perlu bisa mengerjakan eksperimennya di luar sekolah. Di rumah teman atau rumahnya sendiri.
  4. Semua peralatan yang perlu pengadaan (atau pembelian) haruslah murah, atau terjangkau dan punya nilai jual kembali yang tinggi.
  5. Sistem (operasi) yang dipilih harus mudah dikustomisasi dan cukup ringan untuk jalan di hardware terendah yang ada di laboratorium sekolah, atau di rumah siswa (atau temannya, tergantung keinginan).

Syarat pertama berarti: tiap siswa harus punya sendiri. Syarat 2 dan 3 berarti: sistem itu harus bisa dibawa-bawa berpindah PC dan bisa jalan di bermacam spesifikasi PC (sekaligus syarat ke-5). Syarat ke-4 telah jelas: murah dan harus bisa cepat laku jika dijual kembali setelah siswa lulus (ini fenomena yang lazim).

Sifat mobilitas tinggi dimiliki oleh distro live; ini jelas, distro “normal” tidak mungkin diharapkan. Mereka butuh harddisk yang tidak murah (atau “murah” tetapi second), fisik besar dan mobilitas yang rendah. Selain mahal, harddisk juga tidak punya nilai jual kembali yang cukup layak mengingat siswa hanya sanggup membeli harddisk second. Harddisk berarti juga “pemborosan” karena kapasitas yang terlalu besar padahal proyek siswa hanya membutuhkan (maksimum) 2,5 GB.

Sampai di sini, semua distro “normal” tercoret dari daftar. Lalu, di antara sekian banyak distro live, mengapa (harus) SLAX? Sebenarnya tidak harus; dalam konteks TA tadi para siswa saya bebaskan saja memilih yang mana. Saya memakai SLAX, tetapi itu hanya rekomendasi. Ada alternatif yang lain, DSL misalnya. Namun umumnya siswa cenderung mengikuti saja si guru. Para pembaca yang berasal dari kalangan yang lebih tinggi daripada siswa SMK, silahkan memilih distro live apa pun; tetapi artikel ini memang fokus ke SLAX…:mrgreen:

Sekarang saatnya mengemukakan beberapa alasan khusus/teknis terkait pertanyaan “mengapa (harus) SLAX”. Beberapa poin sangat subyektif, seperti biasa๐Ÿ˜‰

  1. SLAX basisnya Slackware, dan Slackware adalah distro Linux yang paling saya kenal. Slackware juga yang saya pakai mengajar di sesi pelajaran sebelumnya (yakni sebelum masa tugas akhir).
  2. SLAX modular; aplikasi ditambahkan ke sistem secara on the fly, seperti mengaktifkan modul kernel. Pengaktifan modul ekuivalen dengan instalasi.
  3. Mulai rilis 6 SLAX menggunakan kompresi dengan LZMA yang menghasilkan kompresi lebih padat/kecil.
  4. Kita bisa melakukan instalasi normal tanpa syarat apa pun sebelumnya; hanya perlu paket TGZ milik Slackware dan lakukan instalasi seperti biasa. Ini pendekatan yang membantu dalam kondisi ketika kita belum memperoleh modul SLAX yang resmi untuk aplikasi tersebut. Lebih rinci lagi, konsekuensinya, memakai SLAX ini menjadi sangat mirip dengan langsung memakai Slackware. Jika sebelumnya familiar dengan Slackware, keuntungannya langsung kita rasakan.
  5. Tersedia banyak aplikasi di situs resminya, dan lebih banyak lagi di repository tidak resminya, di sini contohnya (hati-hati, ada pop-up iklan).

Masa kini, USB flashdisk telah cukup murah; kira-kira dengan Rp 100.000,- telah bisa diperoleh UFD berukuran 2 GB, baru; cukup untuk memulai proyek. Pada masa mendatang harga ini barangkali bisa lebih murah lagi. Harga bervariasi dari merk ke merk. Pertanyaan yang menyusul: apa merk yang disarankan?

Berdasarkan pengalaman, hindari VanDisk; failure rate merk ini tinggi sekali walau pun kita telah memakai filesystem XFS. Lebih baik Transcend atau Kingston; kedua merk ini cukup tangguh, sekitar 98% bertahan tanpa sekalipun mengalami masalah (catatan: setelah memakai XFS). Filesystem yang dipakai mempengaruhi kinerja sistem dan keselamatan medianya. Memang, SLAX bisa beroperasi pada FAT32, namun direkomendasikan XFS. Ini insya Allah merupakan salah satu topik kita di seri selanjutnya.

Semoga… *bikin janji, berarti dengan sengaja ngutang, hiks…*

8 responses to “Eksplorasi Distro Linux: SLAX

  1. Setelah punya flashdisk Kingston dan tergoda untuk mencoba SLAX, langkah selanjutnya bagaimana Pak?

    Kalau ngutangnya enggak sengaja, entar bayarnya juga enggak sengaja๐Ÿ˜›

  2. @ Re: Owh, trus klo mati sebelum bayar utang jadinya tu “ga sengaja masuk neraca”, gtu yak? Hihi…:mrgreen:

    @ Fik-san:๐Ÿ˜Ž

    @ Eko n MRP: iya e, newbie bangets; emang ra mutu™ hehe…๐Ÿ˜†

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s