How your state really is?

Dini hari, lagi-lagi… Badan belum fit benar, tapi memang, saat paling enak untuk fokus tu yaa bukan siang hari yang jelas; buat saya loh. Dan maaf judulnya, itu mungkin agak gak bener; “how real your state really are” ataukah “how real your state really is”? Ah, yang pertama imho, tapi kalau ada yang lebih pinter dan tahu yang valid gimana, please…πŸ˜‰

Maksud saya dengan “state” itu adalah keadaan (atau kesadaran?) diri kita. Awalnya hanya dari jalan-jalan di Blogsphere, lalu saya temukan hal-hal lucu, yang, walaupun lucu tetapi juga meninggalkan kesan “miris” di hati dan pikiran saya. Miris itu… apa ya? Ngeri, kurang lebih maknanya; iya? Ah, saya yakin para pembaca ngerti deh…

Ada cerita tentang orang yang gak ngerti cara memakai handphone. Bukan, bukan gak punya. Punya tapi gak ngerti make’nya gimana… Baca artikel ini lalu silakan ketawa (kalau masih bernafsu ketawa). Aneh? Gak wajar? Entahlah, yang jelas dari yang saya baca, bener-bener ada. Yah, kejadian di Papua sih, tapi masa’ cara SMS saja gak tau? This is unreal I suppose, but it is real ternyata… *halah, bahasa campur aduk*

Ada lagi cerita tentang orang yang memandang Linux dengan sebelah mata, alias meremehkan. Bukan, bukan karena “keyakinan”. Saya sudah sering bertemu dengan orang yang ahli soal Windows, dan tipe yang begini ini, mereka itu wajar saja sampe’ sedemikian yakin dan “beriman” kepada pilihannya –seperti juga saya. Yang di cerita ini malah terkesan lugu dan tidak tahu; mungkin lebih tepat disebut “ignorant”? Ah entahlah, itu istilah yang kasar sih saya pikir. Bayangkan, ini tahun berapa sih? Masa’ masih pakai Ms. IE… Plus, nggak pakai antivirus. Innalillahi… In my stupid opinion: punya Windows tapi ga masang antivirus, itu bener-bener asli stup**πŸ™„

Kisah yang ketiga adalah soal dilema antara aplikasi proprietary dengan aplikasi gratis. Well, memang di sumbernya diberi judul “gratis”. Kisah klasik bagaimana pun juga. Di kampus saya ini dulu rahasia umum (yang berarti: “bukan rahasia lagi”). Entahlah sekarang. Sebenarnya simple kali ya. Si A bikin produk dan minta Anda: jangan mengutak-atik dalemannya; pokoknya Anda tinggal pakai aja (dan bayar dulu tentunya! Itu barang dijual, jadi jangan “mencuri”). Sebaliknya, si B bikin produk dan terserah pada Anda: mau make’ ato nggak, mau pake’ tapi gak mau bayar silahkan, mo pake’ dan mau (atau “maksa”?) bayar ya monggo juga. Singkatnya: terserah elu coy! Tentu saja, Anda boleh-boleh saja mengutak-atik dalemannya (jika Anda bisa, jelas).

Produk si A dan si B berbeda dalam cukup banyak hal teknis, dan jelas sangat berbeda secara non-teknis (dengan kata lain, “secara filosofis”). Jika biasa memakai salah satunya dalam jangka waktu yang lama (yee, namanya juga “biasa”) maka ada banyak hal yang perlu diubah: mulai dari jari-jari kita sampai dengan yang ada di dalam kepala kita. Sama sekali tidak sederhana, tapi bukan tidak mungkin…

Problemnya: orang kita pinginnya gratis. Entah itu terbuka atau pun tertutup, yang penting dan nomor #1 adalah GRATIS. Alias gak bayar; gak ngeluarin duit sepeser pun (yah, kalau pun iya, sesedikit mungkin lah). Pokoknya prinsip ekonomi banget lah yaw…πŸ˜€

Situasi makin berat dengan adanya “kurs”. Kalau tak ada selisih antara mata uang satu dengan lainnya, kali aja ga gini ya… *wah, ini mah perlu pakar ekonomi yg bicara*πŸ™„

Kembali ke judul…

Sering saya merasa hidup di alam “lain”. Alam yang bagi orang kebanyakan adalah alam “ghaib”. Alam yang tidak nyata; unreal… Berjam-jam berkelana di internet, menyebabkan gap antara kami. Yah, memang saya tidak sendirian, tapi koq tampaknya komunitas yang lebih banyak adalah komunitas mereka yang menganggap saya makhluk dari luar angkasa…:mrgreen:

Ya ya… agak didramatisir. Tapi serius, maksud saya: setelah tahu cerita-cerita ketiga blogsphere dwellers tadi maka saya jadi aneh sendiri. Gak bisa make’ HP? Hari gini, masih juga pake’ IE? Open source software vs Proprietary software… dan sebagainya. Mungkin ada contoh lain, tapi saya cuma nemu tiga itu.

Saya merasa “unreal”. Tapi saya yakin, saya ini “real” sungguh! Iya, serius…

Ini tahun berapa sih? Kita tidak sedang di jaman prehistoric khan?

Argh… Again, I’m overthinking this thing…πŸ˜†

Tapi saya pikir-pikir lagi, di dunia ini selalu bakal ada dua-duanya deh. Kebaikan dan kejahatan, laki dan perempuan, orang yang bisa make’ HP dan orang yang tidak bisa make’nya… Juga, Windows user dan Linux user. Yin dan Yang. Halah, sudahlah; sbentar lagi subuh…πŸ˜‰

Uuh, untung di detik-detik terakhir inget ini, silakan baca, lucu. Yah, tapi kalau kitanya ngerti sih…:mrgreen:

Update 10 Jan 2009: Judulnya saya ganti menjadi “How your state really is?“. Maksud saya dengan judul sebelumnya —How real your state really are— sebenarnya menanyakan, “how real“, alias seberapa “nyata”-kah state Anda. Jawabannya mengarah ke kadar “kenyataan” state Anda saat ini; bisa “sangat nyata”, bisa “kurang begitu nyata”. Sementara, terhadap judul baru –yakni How your state really is— orang mungkin merespon: saya senang, saya sedih, saya sangat bergairah:mrgreen: atau saya lagi… [isi sendiri]

Singkatnya, dengan judul baru ini fokusnya bukan pada kadar nyata tidaknya state tetapi pada state itu sendiri. How your state really is?πŸ˜‰

21 responses to “How your state really is?

  1. —-
    Tapi saya pikir-pikir lagi, di dunia ini selalu bakal ada dua-duanya deh. Kebaikan dan kejahatan, laki dan perempuan ..
    —-
    Begitu pula :
    ada lajang ada nikah
    ada suami ada istri
    ada Fath* ada R*
    πŸ˜€

  2. @ dodoy:
    Hahaha..πŸ˜€
    Tunggu ampe para pemilik nama berawalan “R” tau. Ntr jgn nyalahin ana yach klo kna gamparπŸ˜›
    Ngawur..πŸ˜†
    Antum pake “*” lho di situ; luas bgt tuh kmungkinan kpanjangannyaπŸ˜€
    So,yg antum maksud yg mn nih?

  3. hyo-san, i think it should be “How your state really is?”…
    btw, kalo statusku sekarang adalah “munafik”, waktu si windy tkena virus aku ke linux, tapi setelah diinstall ulang, grub ubuntu hangus aku males perbaikin grub-nya lagi, maka kembalilah aku kepada windy. ini juga karena software engineering windy base smua, jadi mau g mau ubuntu ku madu:mrgreen:

  4. @ Fikri:
    Wah, iya juga keknya yach…
    Mmh, ntar lah saya ganti judulnya; permalink-nya gak coz ada trackback ke blog laen dg link yg mengandung susunan kata salah itu. Eh, klo kita ubah permalink tu trackback di blog orang laen ikut brubah menyesuaikan ga sih? Jangan2 nggak… khan dead link ntarπŸ™„

    Hehe, “munafik”?
    “Muna” dan “Fik”…πŸ™„
    “Muna” itu keknya nama perempuan yach…:mrgreen:

    Ehm, klo Grub-nya error, gimana berpindah antar madunya Bro? Ga bs adil dunk…πŸ˜›

  5. maaf, aq ga ngerti, tapi jujur aja, makin lama blog ini makin “menurun kualitas ” isinya, mmm.. ga kayak dulu, postingannya bagus dan bermanfaat, kalo makin kesini makin *RA MUTU* (no offense)
    semoga bisa menjadi kritik.

  6. buat ^^

    Mutu itu sangat subjektif.. Bila belum ada standar yang “disepakati” bersama, maka g sepantasnya itu dipermasalahkan.. Saya yakin ada cara yang lebih baik untuk menyampaikan ketidak-sepakatan kita tentang sesuatu daripada “menyerang secara langsung”.. Apalagi terhadap suatu hal yang bersifat personal bagi orang lain, seperti blog pribadi ini misalnya..
    Dan satu lagi, ilmu itu tidak hanya yang bersifat empiris aja.. Pengalaman, perasaan, emosi, itu juga ilmu kehidupan.. Ilmu yang bisa membuat kita bertahan untuk hidup sebagai sebuah entitas yang dinamakan “manusia”..
    Mohon maaf bila tulisan saya ini menyinggung..

    @admin
    bila dirasa tidak pantas, silahkan comment saya di-delete aja

  7. @ aptx49 & purpleheart:
    Ehm, terimakasih atas responnya; saya rasa, setelah cukup lama memikirkan dan merenungkan 2 koment antum, semuanya ok.
    Seperti balasan saya di atas, “betul itu”; to be honest memang betul, saya sendiri akhir-akhir ini ga puas ama mutu artikel di sini. In short: terlalu banyak bicara soal diri saya, alih-alih –mustinya– Linux atau ilmu-ilmu “real” yg lain. Dan, ya, memang saya jaga tidak membahas domain agama (Islam), bukannya kenapa, tapi karena gak PD saja plus, topik agama sering menimbulkan “flame war”. Kita cukup sama2 faham, bicara agama, sedikit ato banyak pada akhirnya akan bicara juga tentang “benar” dan “salah”. Pengetahuan saya terbatas, dan juga, saya mencegah ada “flame war” di sini. Untuk topik yang serius sekali seperti agama, IMHO, telah ada tempat spesial, di milis-milis terkait dan website-website yang mengkhususkan membahas agama (Islam). Di sana pembicaranya bisa dipertanggungjawabkan…

    Ehm, balik ke topik “mutu artikel saya yang RA MUTU”.
    IMHO, sebenarnyalah menjadi sulit (banget) untuk menetapkan klasifikasinya, apakah “bermutu” atau “tidak bermutu” ketika artikel yg bersangkutan bicara tentang diri/pribadi saya. Well, jika tidak bermutu, logically it is mean: diri sayalah yang gak mutu. Pribadi yg ra mutu, singkatnya.

    Kalau sudah membahas satu hal yg relatif gini ini saya jadi inget… mmm, one of my favourite quote:

    …People live their lives bound by what they accept as correct and true. That’s how they define “reality”.
    But does it mean to be “correct” and “true”?
    Merely vague concepts… Their “reality” may all be a mirage.
    Can we consider them to simply be living in their own world, shaped by their beliefs?
    —Itachi. Taken from: Naruto, chapter #385, “Secret of The Mangekyou”, page6; URL: http://www.onemanga.com/Naruto/385/06/

    Special buat aptx49…πŸ™„
    It’s okay.
    BTW, jika diperkenankan memberi saran (atau “warning”?)… Jangan lakukan ini di blog orang lain. Kita berteman sekian lama, and somewhat I can grasp what are you trying to say… Tetapi orang lain mungkin tidak sesabar daku…πŸ™„
    Yah.. toh yg antum bilang tetap ada benernya koq (soal “ra mutu” itu).
    Eh, tp smoga antum ga pernah sebelumnya gitu di blog orang lain. It’s no use bilang “no offense”. Relatif. Bagi mereka mungkin itu ofensif…

    @ purpleheart:
    Deleting your comment?
    No. I’m an open-source freak, I think…:mrgreen:
    Biarin aja semuanya di tempatnya masing-masing.

    Well, I think that’s all I want to say. Happy learning…πŸ™‚

  8. iya, windy sudah membuang kunci grub rumah linxy, ga bisa memadu deh… hiks, maunya sih adil tapi OS-tri pertama ga ridho keknya…

    eh jangan2 jadi “ra mutu” gara2 aku sering ninggalin komen kaliπŸ˜›

    tapi, aku kasih selamat mas bisa dapet komen kayak gitu, itu berarti ada orang yang perhatian ama isi blog kita, mnurutku, komentar macam itu emg bisa bikin perasaan campur aduk antara senang dan sebel. just take the positive, and like naruto said: be bad at give up!

  9. @ Analog Guy:
    Huh, si istri pertama culas kali…πŸ˜›

    Yang jelas mutu atau tidak itu bukan krn koment njenengan nDoro…πŸ˜† *ujian ya ujian tp jangan sensi gtu dunk…πŸ˜€ *

    Saya juga perlu istirahat ng-blog.. musti ngisi raportπŸ˜‰ plus badan sedang sakit…πŸ˜•

  10. @aptx

    no-offense signal… usually used to offense someone.. and please use your netiquette..!

    Grow up… where is your “ilmi”, does Islam teach you to critique (or may I call it flayer) someone in that way? shame on you bro…

    you know email don’t you? and you know how to use it don’t you?

  11. jadi ikud bingung aku…

    dirumah juga lagi munafik, soale adek2 pengen banged ada strong hold, empire n rise of nation…

    tapi….. ya…… gimana dung terpaksa suse di rumah tak madu juga…

  12. @ asyhadione:
    Sekedar cerita pengalaman pribadi: jika kita cukup punya kesibukan (atau malah “terlalu banyak punya kesibukan”?) maka ha-hal itu akan terlupa dgn sendirinya. Bener deh; ga sempat.
    Btw, di sini (skul) banyak sekali PC tersedia jika cuman mau nge-game dg games semacam itu. Sekali lagi, waktunya yg gak ada…πŸ˜†

    Pelajaran moralnya: buat mereka (adik/famili antum) supaya sibuk terus menerus. Kasih kerjaan apa kek; gak perlu banyak, tapi yg sulit (dan asyik tentunya coz jika ngga asyik, yaa dalam itungan menit mereka kabur). Hehe…😎

    @ MRP:
    Yeah…. Pak Hendri kemarin jg cerita, dia bacain dari smart phone-nya (Dopod 838).
    Baru ini tadi baca sendiri ama nelusurin komentar orang-orang yg membaca kisah itu (cuman beberapa koment awal, ra sudi mbaca smua, buuuuanyak, hehe).

    Ah, ternyata aq beruntung; bagaimana nggak, 10 taun baru bisa lulus tapi kalo kepandaian yaaa lebih pandai lah aq dibanding orang di cerita ituh…πŸ™„

    Tjabbpe deeee™…πŸ˜†

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s