Permasalahan Guru TIK

Tulisan ini hanya wacana; bagaimana pun juga beberapa hal menghambat saya untuk mewujudkannya menjadi “lebih dari sekedar wacana”. Oya, sebelum terlalu jauh “berprasangka buruk” dengan judul tulisan ini, baiknya saya jelaskan, bahwa yang saya maksud “permasalahan” di atas ialah permasalahan menghadapi kenakalan siswa, terutama terkait dengan penyalahgunaan fasilitas belajar —secara khusus, dalam hal ini Lab. Sebelumnya, mohon maaf kepada U. Indah Uly Wardati karena terlambatnya tulisan ini (dan karena tulisan ini baru sekedar bicara di dataran wacana).Pertama, saya jelaskan apa yang saya maksud “halangan” pada paragraf sebelumnya. Saya meyakini masih banyak guru TIK yang mengoperasikan sistem operasi keluarga Ms. Windows di laboratorium yang berada di bawah tanggung jawabnya. Sayangnya, saya bukan “Windowser” (Windows user), atau, tak mahir memakai itu. Lab yang saya kelola memang ada Windows-nya, pada kenyataannya dual boot –tentu saja, yang satu lagi adalah Linux. Untuk menambah ini semua agar terlihat makin buruk/parah, ialah karena saya gak tertarik dengan Windows…๐Ÿ˜ฆ

Jadi, mohon maaf, saya hanya bisa berbagi ide global dulu di sini. Saya menghindari pembahasan yang terlalu spesifik ke sistem operasi tertentu. Walaupun, saya tidak bisa menghindari beberapa aspek penting, dan bahkan perbandingan antara keduanya…

Saya tegaskan, fokus tulisan ini ialah mengumpulkan ide-ide untuk mengatasi kenakalan siswa, utamanya yang terkait dengan penyalahgunaan fasilitas belajar, yakni laboratorium komputer. Mula-mula, kita daftar dulu bentuk kenakalan yang mungkin/telah terjadi;

  1. Menginstal game, dan tentunya, nge-game waktu kelas berlangsung.
  2. Browsing ke situs yang tidak ada hubungannya dengan pelajaran, atau, ke situs yang terlarang; contoh situs yang tak ada hubungannya dengan pelajaran ialah: FS (FriendSter), FB (FaceBook), Internet Movie Database (IMDb) dan lain-lain. Contoh situs terlarang telah jelas, segala yang berisi content pornografi masuk ke kategori terlarang. Termasuk, aktivitas serupa yang tidak melibatkan browser, misalnya: masuk chatroom di forum-forum yang tidak ada hubungannya dengan pelajaran atau yang memang terlarang.
  3. Terkait dengan nomor2, menyalin dan mendistribusikan content yang tak ada hubungannya dengan pelajaran dan/atau yang terlarang; baik di hard disk lokal atau ke flash disk (pribadi).

Sementara itu dulu; tentu daftar di atas masih jauh dari tuntas. Manusia adalah makhluk yang “kreatif”, ada banyak jalan menuju ke Roma, pepatah lama bilang begitu; jadi, masih ada banyak bentuk kejahatan.

Terkait nomor 1, metode yang sudah saya jumpai ialah memakai Deep Freeze. Praktek yang lazim adalah, mengunci drive C dan membiarkan drive yang lain; alasannya, drive lain bisa dipakai untuk menyimpan data praktikum. Kelemahan metode ini:

  • memang, sistem terlindung dari program-program “sampah” (game dan lain-lain) bahkan termasuk dari virus (hingga level tertentu). Namun ini tidak mencegah masalah nomor 1 sama sekali. Banyak game yang bisa dijalankan tanpa perlu diinstal, artinya, perlindungan terhadap registry dan drive C tidak relevan (lagi) di sini. Game bisa disimpan di drive D, atau yang lainnya.
  • Perlindungan total terhadap semua drive mengakibatkan situasi menjadi tidak fleksibel, tidak nyaman (karena terlalu ketat). Dan, masalah masih ada: game masih bisa disimpan di flash disk & dieksekusi dari sana. Memang, tak semua siswa punya flash disk barangkali, tetapi itu bukan soal, melalui file sharing bisa dengan mudah didistribusikan ke seantero lab.
  • Masalah paling mendasar ialah, Deep Freeze mencegah perubahan yang permanen terhadap sistem, tapi tidak mencegah perubahan temporer… Tak bisa terlalu menyalahkannya, ini memang di luar fitur yang disediakan oleh Deep Freeze. Jadi, dengan perlindungan total, boleh saja “aman”, tapi sebetulnya masih kurang aman —separo aman pun barangkali belum. Penulisan ke disk harus dicegah secara mutlak, apa pun alasannya; penulisan hanya diijinkan ke/di direktori tertentu yang terbatas ukurannya (dengan maksud, membatasi apa yang diletakkan di situ). Dengan kata lain, penerapan quota

Butir terakhir di atas, virtually impossible diterapkan di WinXP, CMIIW. Sekali lagi CMIIW, saya bukan pakar di Windows๐Ÿ˜‰

Jika tetap ingin memakai platform Windows, kemungkinan solusinya ialah, berpindah ke versi server (dalam arti sebenarnya). Gunakan Windows 2000 atau 2003 untuk server lab-nya, misalnya. Saya tahu, versi server mendukung fitur quota, tetapi bagaimana mencegah masalah di atas tak bisa dengan solusi ini saja. Karena siswa ada di sisi client, bukan di server; sedangkan memasang Windows 2000 atau 2003 di semua PC di lab adalah —virtuallyimpossible. Terutama karena kendala spesifikasi PC client.

Solusi tuntasnya jika masih ingin di platform Windows ialah… ehm, saya belum menemukannya, for sure. Para pembaca barangkali bisa menyumbangkan ide๐Ÿ˜‰

Sekarang, masalah nomor 2; ada dua sub bahasan: bagaimana jika memakai browser dan bagaimana jika tak melalui browser. Mengatur orang boleh browsing ke mana sebenarnya cukup sederhana, secara konsep. Kita pasang saja WinRoute. Tentu saja, konfigurasi sama sekali tidak simple (apalagi jika itu saya, hehe). Atau, pasang proxy di server dan konfigurasikan agar semua client harus browsing via proxy tersebut. Jika bisa mengonfigurasi proxy yang sanggup menangani banyak keperluan, ini keuntungan besar, sehingga bukan perilaku browsing saja yang terkontrol, tetapi yang lain juga: sesiย chatย bisa dicegat, misalnya.

Tentang masalah nomor 3, saya bersandar pada feedback para pembaca saja; selain karena ini masih belum cukup “berbentuk” di dalam kepala saya, terutama adalah karena sekarang udah cuapek nulis…๐Ÿ˜†

Sudah jam 10:15 PM, dan ini Ramadhan. Musti segera tidur, kalau tidak ingin sengsara besok…๐Ÿ˜†

See u tomorrow.

17 responses to “Permasalahan Guru TIK

  1. Linuxer?? Windowser??
    Istilah yang membuat saya geli…
    Linuxer yang kebanyakan saya kenal, dulunya juga “pernah” menggunakan Windows. Setelah kenal Linux dan “ngoprek” akhirnya selalu berkesimpulan: “Wah linux OK Banget bisa ini bisa itu, aku jadi tau konfigurasi ini itu, etc, dst”.
    Pelajaran Produktif di SMK, telah ada pilihan Close Source atau Open Source. Dengan melihat kenyataan di lapangan maka dipilihlah Close Source yang artinya menggunakan WINDOWS dan aplikasinya Under Windows (banyak faktor untuk memilih ini). Masyarakat pd umumnya tidak/belum siap untuk memasyarakatkan Open Source.
    Pilihan menggunakan Windows atau Linux, jika menurut saya hanya masalah prinsip disamping kebutuhan penggunaan… (banyak faktor juga nih…)
    Jika dikategorikan dosa tidak dosa Who Knows??

    Masalah yg muncul di tingkat siswa, lebih kepada naluri alami siswa yang masih remaja, inginnya bermain dan “enjoy” dalam menjalani hidup (tapi tidak bagi siswa yang betul2 mengerti pentingnya belajar = Ada lho siswa yang seperti ini tp tdk banyak). Dan juga pengawasan dan penanganan guru terhadap siswa di kelas berbeda sehingga “kadang2” Guru kehilangan taringnya di kelas.
    Seperti permasalahan “merokok”, “Baju Dikeluarkan” sampai kita teriak seperti “rocker” tetap akan terjadi pelanggaran. Saya menilai sikap seperti ini lebih cenderung “Bagaimana Keluarga dalam mendidik disamping lingkungan yang membentuknya” Jika kita bisa menghasilkan “Anak” yang berkualitas, pasti setiap tata tertib dan perilaku yang “kurang baik” dan “kurang menghargai diri sendiri” akan dengan sadar ditinggalkan…๐Ÿ™‚

    Menjadi Guru yang baik itu sangat sulit… tp harus tetap berusaha!!

    Sebenarnya apa yg saya tulis di atas kita sudah tahu… hanya mengingatkan…!๐Ÿ™‚

  2. Sangat setuju dg P.Joko
    Untuk P.Fath Syukron Katsir,sebagai bahan tambahan dlm penyusunan PTK…
    Sebenarnya masih banyak lagi yang ingin sy sampaikan akan tetapi sekarang masih banyak hal yg harus segera diselesaikan…..Nyusul besok lagi yach….Yg penting ucapin trimakasih dulu…cuz kemarin uda minta segera diterbitkan dan Afwan…. ๐Ÿ™‚

  3. sekedar ngasih pandangan. ya semoga aja membantu.

    gimana kalau permasalahan no 1 dipecahkan dengan merubah hak akses user pada client menjadi limited. sehingga nggak bisa install program seenaknya. terlalu ketat ya kalau kayak gitu?? atau memungkinkan nggak kalau dibuat sistem kayak dikampus, model bikin user n dikasih space tiap siswa sekian mega. mungkin dengan begitu lebih terkontrol??

    solusi no 2 kayaknya dah bagus tu kalau dijalankan. block aja situs2 yang nggak berkaitan yang sering kali dibuka siswa seperti yang antum sebutkan diatas. kalau chating ya block aja portnya.

    hem… kalau no 3 paling mentoknya dinonaktikan aja pendekteksian secara otomatis USBnya. mungkin caranya bisa seperti berikut:

    Buka regedit Start -> Run -> regedit. kemudian cari:

    HKEY_LOCAL_MACHINE\SYSTEM\CurrentControlSet\Services\UsbStor

    kemudian klik kanan -> modify pada โ€œStartโ€. ubah value data menjadi 4. kalau mo mengaktifkan lagi balikkan value data ke nilai 3.

    atau mungkin dirubah setting biosnya yang berkaitan dengan USB.

    hihihi… trus ntar kalau mo transfer data atau ambil data dari satu kompi aja. kayak kompi milik guru didepan contohnya.. terkesan paranoid banget kayaknya kalau gitu ya?? hihihi….

    afwan kalau solusinya ndak bisa membantu.

  4. @ ekonugroho:
    Pada akhirnya, inilah yg mungkin kami tempuh:
    1. all drive (selain C) hidden
    2. drive C di-deep_freeze
    3. set logon to domain, di sisi server tentu saja harus siap, bisa pake 2000/2003 server ato Linux (samba enabled+configured). So, all student akan menyimpan kerjaan mereka ke server. Quota enabled.
    4. Saran yg antum berikan oke; transfer via flash disk or removable media yg lain harus via komputer server/guru. Sbg catatan, FYI, PC client tdk diberi/dipasangin CDROM drive.
    5. Pengmbangan: Mr. Hendri (tau/kenal khan) memberitakan bahwa ia menemukan app yg semacam Deep Freeze ttp bekerja di level direktori; ini bagus, krn kita bs memilih mana yg di-deep_freeze dan mana yg tidak (krn ssuatu alasan kritikal, misal). Ttp program ini belum di-test… ^^

    Just FYI… I prefer, mm, “that way”, u know… ^^
    ๐Ÿ˜†

  5. @ yellashakti:
    User friendly itu sesuatu yg subyektif; yach, pilih aja distribusi Linux yg pembawaannya mirip Windows.
    Sbg contoh (rekomendasi nih) : Mandriva, Fedora Core atau Open SuSE. Ubuntu juga. Kalo butuh asistensi, biasanya cukup mengontak KPLI setempat (bogor.linux.or.id) via net atau via copy darat.

    Jaman sekarang anak SLTA sudah familiar ama Linux, sangat juauuuuh beda dibanding jaman pertama saya belajar Linux (circa 1998)…๐Ÿ™‚

  6. @ hyorinmaru

    emm… saya cuma khawatir ada umat agama lain yang tersinggung dengan kata2 tersebut sih. ya antum maksudnya bikin humor, tapi ntar kalau ada yang nggak trima piye?? trus kalau mereka juga membalas dengan yang serupa piye?? masalah agama seringkali bisa sensitif. afwan… kalau saya sok tahu, antum lebih tahu ilmunya insyaAllah.

  7. calon guru mampir diblog pak guru he..he..wah..wah..jadi malu,saya juga masih suka nakal gitu..mudah-mudahan kalo dah jadi guru saya ga dinakalin murid he..he..

  8. ooh gitu yah permasalahan guru tik… !??!?.. emang siswa2nya kaya gimana sih mas sampe segitunya…?
    saya pikir kalo ada fasilitas kayak usb/cd knapa mesti gak dipake..(gak diaktifin)…?
    urusan bahwa siswa2nya menggunakan untuk hal yg kurang baek emang sampe brp persen yang begitunya…?
    Maksud saya kalo kitanya sudah memberikan aktifitas yang membuat mereka sibuk kayaknya gak bakalan sempet deh mereka meng’acak-acak’ sistem kita atw keluar dari proses belajar… ya kalopun ada mungkin hanya beberapa dan biasanya kita bisa tahu koq siapa2 saja yg seperti itu.
    Mungkin lebih baik justru yg kayak begitu di arahkan oleh kita ke arah yg lebih baik… hehe….

    yah kalo mereka buka fs atw fb atw game dll… mungkin aja karena mereka tidak ada biaya utk ke warnet.. hehe…
    atw mereka memang lagi belajar ke temennya bagaimana buka fs/fb… nah kalo udah bisa baru mereka ke warnet … hehe… secara tidak langsung kita memberi kesempatan ke mereka untuk “gaul”… =hari gini gak punya fs/fb=… lagian saya pikir ‘pergaulan di internet’ juga harus kita kenalkan ke mereka… pastinya dengan batasan2….
    intinya… mungkin saya salah satu yg kurang setuju kalo langkah pembatasannya melalui penonaktifan fasilitas2 kayak usb/cd… deepfreeze seh masih ok lah… tapi yg lebih penting adalah memberikan ke mereka pengetahuan dan bekal supaya mereka tidak “kuper”….
    hehe…. yah hanya opini pribadi sih….

  9. ngabsen dulu ah. waktu sdh menunjukkan pkl 00:26 WIB berdasarkan sinkronisasi dengan NTP Server-nya LIPI. Nglirik tulisannya yang puaaanjang (termasuk komentarnya), ditingkahi dengan hujan salju-nya.. oaaahh… komen saya besok aja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s