Ramadhan kali ini…

Ini kira-kira adalah Ramadhan ke-18 bagi saya; yach, kira-kira saja sih soalnya lupa persisnya. Saya mulai puasa —dalam arti sebenarnya secara fisik— sekitar SMP, mungkin tidak pas ketika kelas 1; jadi kali ini bisa saja Ramadhan ke-17. Mungkin. Saya SMP di sekitar tahun 90an. By the way, ini Ramadhan ke berapa kalinya bagi Anda? Pasti sangat beragam yach jawabannya…

Tahukah Anda, apa yang saya pikirkan terkait ini?

Saya bertanya-tanya sendiri, sebegitu banyaknya Ramadhan telah saya lalui, kemajuan apa yang saya peroleh sekarang… Saya merasa ndak signifikan. Entah, mungkin saya termasuk tipe pesimistis, atau memang itulah sesungguhnya pencapaian saya. What a pity.

Barangkali memang saking bodohnya saya, sehingga dalam 11 bulan setelah tiap Ramadhan itu, iman saya reset, alias drop menuju titik nol. Ya, mungkin tidak sampai benar-benar nol. Mungkin. Tapi siapa yang tau pastinya, kadar iman kita? Allah bukan? Bagaimana jika pada suatu masa, di antara 11 bulan itu, benar-benar pernah nol? Atau, sekarang, hari ke-4, jangan-jangan masih gak jauh-jauh dari angka itu… Bagaimana pun apa yang tampak di permukaan sering kurang bisa jadi jaminan. Kepada orang lain kita —tentulah— ingin nampak baik. Dan ini benar-benar kita lakukan, kita perjuangkan.

Blog ini, tak terkecuali. Saya ingin nampak sebagai “orang baik-baik” bagi Anda semua. Urusan apakah itu asli atau saya buat-buat, mana orang lain tahu?

At least, sulit mengetahuinya…

Orang lazimnya meminta maaf kepada kenalannya di awal, atau sesaat sebelum Ramadhan. Dan nanti, lagi, di saat hari raya. Kalau saya, mending saya lakukan tiap kali saya sempat, kapan saja dan di mana saja, tentu termasuk sekarang. Saya cemas, ini posting terakhir saya…

Siapa yang tidak cemas saat ingat soal satu ini: mati. Saya koq ingin tahu orangnya๐Ÿ™„

Mungkin ada juga sih orang seperti itu; yang sudah bisa tenang ketika soal kematian ini melintas di pikirannya.

Ramadhan kali ini, banyak hal-hal “gak penting” yang masih juga kita lakukan, seperti yang kita lakukan tahun-tahun yang telah lalu. Fenomena yang mengkhawatirkan, kalau Anda bertanya bagaimana pendapat saya tentang itu. Coba, periksa daftar saya ini:

  1. Masjid begitu ramai, dan akan berangsur kembali sepi sejalan dengan makin dekatnya akhir bulan.
  2. Anak-anak kecil ikut dibawa orang tuanya ke masjid, dan mereka ribut di dalamnya…
  3. Berapa kali Anda memergoki shaf yang “berlubang”? Entah karena ada orang-orang dewasa yang masih belum mengerti, atau yang ditinggalkan oleh anak-anak kecil ketika diprovokasi oleh sebagian rekan mereka… Saya sering sekali, bahkan di masjid agung *bah, apa hubungannya mesjid “agung” atau yang bukan “agung”?*

Silahkan kalau ingin menambahnya, tapi untuk sekedar contoh, itu saja cukuplah๐Ÿ™‚

Tentang nomor 1 di atas, bisa jadi saya salah; toh, ini masih awal bulan, dan siapa tahu Ramadhan kali ini merupakan Ramadhan yang berbeda. Maksud saya, masjid tetap ramai dengan jama’ah bahkan di akhir bulan dan setelahnya. Semoga…๐Ÿ™„

Ah, sebelum ini menjadi semakin panjang sehingga Anda bosan dan saya pun kehilangan fokus, maka saya sudahi saja dengan 2 hal: pertama, mohon maaf atas segala kesalahan saya; saya yakin walau beberapa dari Anda tak pernah ketemu langsung dengan saya, itu bukan halangan bagi terjadinya pelanggaran oleh saya kepada Anda. Siapa tahu umur saya tak cukup panjang hingga hari raya nanti, mending sekarang selagi sempat saja khan. Terakhir, semoga Ramadhan yang kali ini benar-benar membawa perubahan positif bagi kita, tidak saja selama bulan ini tetapi setelahnya juga. Tidak saja 1 bulan setelahnya, namun selama 11 bulan setelahnya.

Semoga Engkau berkenan mengabulkannya, yaa Allah…

13 responses to “Ramadhan kali ini…

  1. terus terang terang terus mas:mrgreen:
    maksud sayah, sy belom sapme ke level itu, dan terus berharap bertemu dengan Ramadhan lagi tahun depan. Karena banyak peristiwa di bulan Ramadhan yang membuka mata saya akan sesuatu, sepertinya Allah menitipkan sesuatu di tiap Ramadhan untuk kita semua. Namun berapa banyak dair kita yang menyadarinya?๐Ÿ˜ฆ
    SEmoga saja Ramadhan kali ini penuh makna, amin

  2. poin2 di atas itu sudah lumrah mas terjadi di masjid2 sekitar kampung kita.

    sedikit komentar buat poin yang pertama. bulan ramadhan ini sebenarnya adalah bulan kompetisi bagi orang2 yg beriman. kenapa hanya orang yg beriman? mungkin kita sudah sering dengar alasannya di kultum2 (KULiah Terserah antUM) yg setiap bulan ramadhan kita hadiri dan ikuti. apalagi yg sudah 18 kali bertemu dgn bulan tsb dalam bentuk aslinya (baca: baligh).
    shaf makin hari makin kosong itu sudah hukum alam. ibarat medan perang, baru terjun ke pertempuran langsung tertembak mati. penyebabnya adalah tidak mempersiapkan bekal2 ilmu peperangan, medan dan strategi. kemudian yg paling penting adalah mental. hanya yang bermental petarung saja yg bisa bertahan dan menggapai kemenangan.
    CMIIW

  3. Ramadhan kali ini…saya rasakan sangat berbeda dengan sebelumnya. Banyak yang saya alami dan saya merskn inilah saat-saat itu. Saat -saat dulu saya byk melupakanNya. At least, saya ingin meraih kebahgiaan ini…kebahagiaan yang dapat dirasakan dan disyukuri sepanjang hidup. Amin…
    Lum update lg…:)

  4. Instropeksi Sir…?
    ya buat saya juga…!

    Anak kecil dibawa ke masjid? Bagaimana dengan anak saya… tp Alhamdulillah anak saya tidak ribut tp… kadang2 masih jalan di depan jama’ah lain.
    Dan Alhamdulillah jika saya beri nasehat agar tidak ikut dulu ke masjid skrg sudah mau!
    Tapi jika sdh mengerti ya harus dibiasakan diajak ke masjid (=anak laki-laki).

    Jangan2 Mr. Hyorinmaru belum menikah karena tidak mau punya anak ya..??? hehehe canda Sir…๐Ÿ™‚๐Ÿ™‚

  5. Di Indonesia, ramadhan lebih bersifat sebagai budaya daripada sebuah ibadah … itu sebabnya rada sulit mendapati atmosfir yang bener2 meningkatkan ketaqwaan kalau ‘kumpul’ di tempat yang salah.

  6. @ achoey sang khilaf:
    Whee, sama-sama aja yo Kang…๐Ÿ™‚

    @ Donny Reza:
    Nah, iya tuh Bro… Orang Indon… *hehe, kita juga Indon*๐Ÿ˜†
    Masalahnya, tempat yang tepat sulit nyarinya. Ada, tapi dikiiit kali. Pa lagi saya lum kenal betul daerah saya sekarang (yach maklum, gak di kampung sendiri).
    Huhu, kebingungan sekarang, nyari masjid yang “bener” di mana yaa…๐Ÿ™„

    @ mikekono:
    Ah, ini satu lagi contoh betapa kita cenderung ke kulitnya. Apa aja koq dibawa ke sisi budaya, ke sisi kebiasaannya. Kapan fokus ke esensinya…

    Pengandaiannya “hot” bgt Pak; cewek…๐Ÿ˜†
    *ups, puasa gini masih juga bisa mikir ke sana; I’m so stupid*

    @ aRuL:
    Wah gak apal juga mas kalo saya ditanya totalnya. Dari kecil saya juga disuruh-suruh gitu, dan makan siang, teuteup…๐Ÿ˜†
    Saya hitung puasa saya yg “full day” aja…๐Ÿ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s