Yaa Allah, jangan jadikan aku pengawas…

Saya sudah punya perasaan, dugaan, firasat -atau apalah sebutannya- yang buruk tentang UNAS kali ini; tapi demi mengetahui sendiri salah satu cerita sedihnya, adu duh…๐Ÿ˜ฅ

Anda baca aja sendiri di blognya pak Khalid. Jika saya gak kuat iman, mungkin bisa bunuh diri saya๐Ÿ˜ Benar-benar gak waras (ya ya ya, saya tahu kewarasan itu subyektif dan relatif). Meski sebagai orang beragama tentu harus menyandarkan segala parameter ke Tuhannya, mustinya gitu…

Ya Allah, jangan jadikan aku pengawas ujian -apa pun, lagi… Tapi kalau menurut-Mu itu baik, gw manut ajalah…๐Ÿ˜•

Seorang penipu itu tidak sedang menipu siapa pun, kecuali dirinya sendiri… (Anonymous).

9 responses to “Yaa Allah, jangan jadikan aku pengawas…

  1. Turut prihatin๐Ÿ˜
    Tekanan dari atasan membuwat posisi jadi serba salah. “ini Indonesia bung !”๐Ÿ™‚
    Tetap istiqomah ya… Semoga diberikan yang terbaik …

  2. fuih…. kayaknya kasus contek mencotek dah dari dulu deh… susah hilangnya… kalau pengen “restart” butuh menghilangkan palingtidak 2 generasi. biar nggak menulari generasi yang masih segar. lha kalau yang dulunya nggak pernah nyontek trus lingkungannya berada pada generasi yang biasa nyontek ya besar kemungkinan untuk tertular.

    kasus itu saya alami sendiri. seingat saya pertama kali nyontek adalah kelas 1 SMP (itu aja ketahuan hihihi…) karena waktu ujian ngelihat kakak angkatan yang nyontek. seumpama (hanya seumpama) saya nggak menjumpai “kebudayaan” tersebut ya mungkin saya nggak tahu soal nyontek dengan berbagai fariasi cara yang dilakukan.

    kalau inget masa-masa SMP-SMA jadi senyum2 sendiri, malu, campur aduk. dari seinget saya, guru kebanyakan berpura-pura nggak tahu. soalnya saya sempat mencoba duduk dimeja guru melihat kearah bangku siswa, dan ternyata gerakan sedikit yang mencurigakan dapat terlihat.

    beberapa cara mencontek yang pernah saya lakukan dan atau sekedar saya ketahui:

    1. dengan menuliskan jawaban pada sobekan kertas yang diberikan untuk corat coret. namun ada kejadian lucu dengan cara ini, yaitu pernah ternyata diakhir ujian kertas coret2 dikumpulkan dan ternyata banyak yang sudah tidak utuh… hehehe…. kena deh….

    2. dengan menuliskan jawaban pada soal yang kemudian saling bertukar lembar soal.

    3. dengan HP (itu kalau HP nggak dikumpulin, kalau dikumpulin masih bisa diakali dengan membawa dua HP). dengan cara inipun ternyata ada kejadian lucu juga, sempet ada yang bisa bawa HP masuk ke ruang ujian, karena teledor HP ditaruh dalam laci dan karena suasana cukup hening getaran HP (karena ada sms masuk) terdengar satu kelas. seketika ribut terjadi karena ketawa dsb. kejadian lucu yang lain adalah salah paham mengenai maksud jawaban yang dikirim. dalam pilihan ganda tiap 10 jawaban diselingi karakter bintang, namun ternyata ada yang mengira kalau maksud karakter bintang adalah karena belum diisi, tahu dong akhirnya…

    4. saling bertukar jawaban di toilet. tahu dong gimana caranya….

    5. dengan menaruh lembar catatan ditempat yang berbahaya seperti diatas meja sehingga gerak gerik kita saat membaca catatan kurang mencurigakan karena mungkin dikira sedang membaca soal. kenapa malah ditempat paling berbahaya?? karena “tempat paling berbahaya adalah tempat paling aman” karena “musuh” tidak terlalu curiga dengan tempat itu.

    6 dan sebagainya (cukup banyak cara yang digunakan)

    namun yang saya yakini adalah sebenarnya pengawas tahu akan sebagian besar peristiwa mencontek. hanya saja berpura-pura nggak tahu dengan berbagai macam alasan yang ada. ya sebagian alasan mungkin bisa dibaca pada artikel diatas yang merujuk pada suatu link. salah satu yang saya tahu… ya kalau ada yang nggak lulus apa kata dunia… hehehehe…. kalau nilanya jelek2 gimana sekolah bakalan laku ntar….

    efek yang saya rasakan dengan menyontek ada banyak. sebagian diantaranya adalah

    1. berkurangnya secara drastis rasa percaya diri karena merasa kurang yakin dengan jawaban sendiri. bahkan kadang karena “mencocokkan” dengan jawaban temen, malah jawaban yang tadinya bener jadi salah.

    2. rasa ketergantungan dengan temen meningkat.

    3. rasa menyepelekan mengenai suatu ujian.

    4. ilmu yang didapat sangat sedikit.

    5. dsb

    dan untuk kembali tidak menyontek akan terasa sulit. tapi alhamdulillah ntah sejak kapan dah nggak nyontek lagi. waktu kul udah jarang nyontek (dah lupa kapan terakhir nyontek, semester 1 kali ya??). bisa ya dijawab nggak bisa ya berarti saya belum mampu gitu aja kok repot. dapet E?? biarin…. yang penting hasil sendiri…… itu belum mampu berarti…. dapet A??? puas….. buanget…..

    tapi ada semacam apa ya… nggak tahu kata tepatnya, kalau kita bisa dalam suatu bidang biasanya jadi tempat untuk bertanya. kalau nggak ngasih jawaban gimana… kalau ngasih ya gimana… ntar kalau dapet nilai bagus dan waktu itu nggak mau ngasih contekan maka “suara suara” dibelakang akan nyaring terdengar. dan kalau ngasih contekan, trus yang dikasih contekan nilainya lebih bagus…. makan ati….. huh… sebelnya kalau tahu kayak gitu nggak tak kasih jawaban.

    maaf kalau komentarnya ngawur. cuma sedikit cerita aja dari persoalan contek mencotek saat ujian. hapus aja kalau nggak berkenan.

  3. @ ekonugroho:
    Wedew… ngalahin yg posting, panjangnya, hehe. Gpp…

    …kalau pengen โ€œrestartโ€ butuh menghilangkan palingtidak 2 generasi…

    Ng? Butuh “genocide” dunk๐Ÿ™„

    …maaf kalau komentarnya ngawur. cuma sedikit cerita aja dari persoalan contek mencotek saat ujian. hapus aja kalau nggak berkenan.

    Haiyyah, jgn gtu-lah…๐Ÿ˜€

  4. Ya itulah sistem Sir….
    Dan itu pasti terjadi karena kita berprofesi sebagai pendidik, tapi saya rasa dibalik itu pekerjaan kita adalah pekerjaan yang baik (sudah merasa belum? jika belum ya berusaha!), dan saya “agak” tidak setuju dengan judulnya, mungkin bisa diganti “Pengawas atau penunggu ujian??” gitu looooh

    Dan judul blog itu saya TIDAK SETUJU sebagai teman seprofesi saya menilai Anda sebagai GURU sudah baik namun perlu ada peningkatan-peningkatan, dan jika memang tidak cocok sebagai GURU… langkah yang bisa ditempuh adalah seperti Mr. OWP salah satunya (kata antum sendiri lhooo)๐Ÿ™‚
    Yang jelas segala sesuatu perlu pemikiran!!! dan segala nikmat harus disyukuri… bukan begitu Sir?? Antum lebih tahu …(murid koq nggurui)
    Piss D ah๐Ÿ™‚

  5. hm…yaa, jd inget sama cerita2 ade yang baru kelas 2 smp. Biasa sbgai seorang kakak slalu tny gmn ujiannya,trus usahakan masuk 5 besar. Tny2 sama ade siapa aja yang dpt peringkt 1-3…eh, adik blg bhw yg dpt peringkt tersebut justru mereka yang sangat2 rajin mencontek&bekerja sama dlm hal ini tengok kanan-kiri. Bahkan ade aja sukanya ditanyain, klo ga diberitahu pasti dimusuhi…:-| mestinya their teacher tahu itu….
    Ah entahlah….koq bisa yaa:-S…
    Finally, saya cm bisa pesen ke ade, usaha dan usaha terus, bersikaplah jujur…apapun itu.

  6. @ Wiwit:
    Blognya mana Ukht?
    Hayoo…๐Ÿ˜‰
    Ehm. Memang. Kalo “kejahatan” mendapat dukungan dari “penguasa” gitu itu. Sistem, guru, kepsek, etc… mustinya bs menegakkan peraturan. Peraturan yg notabene rancangan kita sendiri.
    Jadi inget ama prinsip pertama “peraturan”: peraturan dibuat untuk dilanggar.
    Tape deh… :-S

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s