Riset tentang Handphone: mereknya

Handphone jelas bukan barang yang langka di jaman sekarang; walau memang bukan berarti setiap orang punya –ya ini relatif, marilah kita tak pertengkarkan soal populasi pemilik HP, saya tak sanggup melakukan survey. Artikel ini isinya tentang riset saya pribadi; saya berencana beli HP, meski entah kapan…πŸ˜‰

Dalam rangka “riset” mencari HP baru itulah saya tulis artikel ini; harapannya ada 2 yang jelas: berguna bagi saya sendiri sebagai pengingat saat saya lupa, dan mungkin berguna bagi orang lain… Well, who knows, iya khan. Jadi mari kita mulai; dari mana… Yang terpikir pertama kali oleh saya adalah… “merk”.

Nokia
Uh, klasik. Mungkin orang berkomentar demikian. Lagi-lagi saya katakan, saya tak punya data otentik tentang survey atau apalah, bahwa Nokia adalah merk paling populer. Saya cuma berpegang pada “katanya…”πŸ˜‰

Nokia adalah perusahaan telekomunikasi multinasional, yang berpusat di Finlandia. Foto yang di sebelah kiri ini tak lain adalah Mobira Cityman 200, salah satu produk keluaran pertamanya. Ia hanya berbobot 800 gram, jauh lebih ringan dibanding pendahulunya: Mobira Senator (1982) yang berbobot 9,8 kilogram; atau, Mobira Talkman (1984) seberat hampir 5 kilogram. Silahkan dibayangkan…πŸ˜‰
Cityman sendiri dirilis 1987. Sejak pertama didirikan sampai dengan saat ini, Nokia telah berganti 4 kali berganti logo; foto masing-masing logo beserta informasi terkait bisa dibaca di sini.
Selain memproduksi HP, ternyata Nokia juga memproduksi komputer multimedia juga, dan banyak yang lainnya lagi. Informasi selengkapnya bisa dibaca sendiri di sini. Dan jika alergi pada bahasa Inggris, ada versi bahasa Indonesia di sini.
Seperti kita lihat dan cermati data di atas, HP jaman dahulu berukuran cukup besar & berat pula; sungguhpun demikian, bagi orang di masa itu, ukuran & bobot yang demikian ternyata telah cukup “mobile”. Waktu memang terus berjalan, dan segala yang di dunia ini berubah…
Jika ingin langsung ke situs webnya, silakan ke sini.

Sony Ericsson.

Pabrikan berikutnya: adalah perusahaan joint ventura antara Sony,Corp dan perusahaan telekomunikasi dari Swedia, yaitu Ericsson. Pabrikan ini nomor 2 terbesar setelah Nokia, seperti yang diungkapkan Wikipedia:

Sony Ericsson has approximately 8,000 employees worldwide. With a 43% annual growth rate, it became the fastest-growing mobile vendor in Q3 2006 compared to Motorola with a rate of 39%. Today, Sony Ericsson is the second-most profitable phone maker behind Nokia and has achieved this status because of its growth in high end handset market.

Di samping kanan ini foto Sony Ericsson K750i dari samping, saya ambil langsung dari Wikipedia yang membahas tentang pabrikan ini. Berbeda dengan Nokia yang tak saya temukan deskripsi tentang seri-serinya, di Wikipedia saya bisa langsung temukan seri-seri SE (Sony Ericsson) dan artinya. Saya kutipkan di sini sebagai berikut:

  • seri D, low-mid range; dikhususkan bagi operator jaringan T-Mobile saja, huruf “D” di situ terkait dengan “Deutsche Telekom”. Contoh: D750.
  • seri F, low-mid range; khusus bagi operator jaringan Vodafone dan partner kerjanya. Contoh: F500. Huruf “F” di namanya terkait dengan “Vodafone”.
  • seri J, low end dengan form factor candybar. Tanpa fitur kamera. Huruf “J” di namanya terkait dengan kata “Junior”. Contoh: J100, J200, J230, J300 dan lain-lain.
  • seri K, low end hingga high end dengan form factor candybar. Memiliki fitur kamera dengan desain “dual front“. Beberapa produk menyandang nama “Cyber-shot“. Huruf “K” terkait dengan kata “Kamera”. Catatan: saya tak tahu bahasa apa itu, kenapa bukan “C” jika itu bahasa Inggris (yang berasal dari “camera“). Yang jelas, demikianlah kata WikipediaπŸ˜‰
  • seri M, kelas mid range bersistem operasi Symbian. Ini merupakan kelas “smartphone“. Huruf “M” terkait dengan “Messaging”. Contohnya adalah M600.
  • seri P, kelas high end bersistem operasi Symbian, sama dengan tipe M, ini merupakan kelas para smartphone. Huruf “P” di situ ada hubungannya dengan “PDA”. Contoh: P800, P990 dan P1.
  • seri S, kelas high-mid end dengan form factor swivel dan slider. Huruf “S” jelas terkait dengan kata-kata “Swivel” atau “Slider”. Contohnya: S500, S700.
  • seri T, kelas low, mid dan high end ber-form factor candybar. Merupakan penerus tipe-tipe keluaran Ericsson yang lama sebelum join dengan Sony. Wikipedia tidak menerangkan asal muasal huruf “T” yang mengawali nama seri ini. Contoh: T650.
  • seri V, mid-high end khusus bagi operator jaringan Vodafone dan partnernya. Huruf “V” berasal dari “Vodafone”. Contoh: V600.
  • seri W, kelas low, mid dan high end yang tampaknya dikhususkan bagi penggemar musik. Huruf “W” terkait dengan “Walkman”. Contohnya adalah: W200.
  • seri Z, kelas low, mid dan high end dengan form factor clamshell (bentuk lipat seperti kerang). Huruf “Z” berasal dari kata “Clamzhell” (ini jelas bukan bahasa Inggris, bahasa Swedia mungkin). Contoh: Z200.

Apa hubungannya?
Ya, apa hubungan antara merk atau pabrikan dengan HPnya? Justru ini yang penting bukan? Masalahnya, sejauh ini saya cuma ada pengalaman dengan 4 HP dari Nokia dan SE; tepatnya, 2 HP Nokia dan 2 HP SE. Lebih akurat lagi:

  • 1 Nokia 3315 (aduh!) warisan dari adik saya; masih dipakai sampai sekarang.
  • 1 Nokia 3220 (hm…) punya adik saya, kadang saya memakainya; sempat merasakan paling tidak.
  • 1 SE J230i, ini beli sendiri (huh, ditambahi ama adik juga, hehe). Sekarang saya wariskan ke adik bungsu. Saya pakai 3 bulan.
  • 1 SE T230, ini juga dari adik…πŸ˜‰

Trus, gimana?
Sejauh ini, saya bisa katakan beberapa karakteristik umum kedua pabrikan tersebut; baik dari pengalaman memakai 4 HP di atas, atau selama mencermati tabloid-tabloid HP, termasuk obrolan dengan beberapa teman. Kesimpulan saya:

  • Nokia adalah yang terpopuler… Dari teman saya yang paling miskin sekalipun, sampe dengan yang kuuuaya banget, popularitas Nokia di atas SE.
  • Nokia cenderung menjual nama dengan level lebih dibanding SE; mungkin merasa menjadi pihak yang di depan (baik senioritas dalam bisnis HP, maupun perolehan saat ini) maka harga produk Nokia lebih mahal dibanding produk yang sekelas keluaran SE. Buat orang miskin seperti saya, bagaimana pun harga akhirnya isu yang “menentukan”πŸ˜‰
  • Nokia, cenderung merakit produknya dengan komposisi fitur yang “padat/banyak”, tetapi “pelit”. Saya mengamati dari tabloid HP yang cukup banyak itu. Saya sering baca (tapi tidak berlangganan) NewsPosel, Pulsa dan Sinyal; saya amati di ketiganya soal spesifikasi (dan harga, hehe) HP. Maksud saya “padat” adalah: yaa, padat fitur gitu, tetapi “pelit”; ada memori internal, cuma 3 MB tapi dikasih kamera VGA. Lha terus buat apa… Mana konektivitas ke luar ga’ ada; paling infra red. Transfer video hasil rekaman kamera VGA ke HP lain via infra red? Huh…πŸ˜‰
  • SE menyusun fitur-fitur di produknya secara lebih reasonable; tetapi beberapa produk terakhir mengidap masalah Nokia di atas; coba tengok seri K dengan angka “rendah”:mrgreen: Ada kamera VGA tapi memori kecil, payah. Bukan soal VGA-nya yang saya komplain, tapi soal memori internal kecil dihubungkan dengan kamera, itu dia masalahnya. Kembali ke pertanyaan di atas “lha terus buat apa?”πŸ™‚ Mana memori eksternal ga’ ada. Ya saya tahu, memori eksternal cuma untuk kelas mid/high end. Tetapi sebagai orang miskin, saya ga’ interest dengan fitur yang ga’ balance gitu… Mending ga usah dikasih kamera :-p
  • Nokia lebih baik tentang performa/kinerja keypad di produk-produknya. Mungkin ini sepele, tetapi sebagai orang miskin yang di akhirnya cuma SMSan mulu, kinerja keypad penting, amat penting bagi saya… Keypad Nokia 3220 nyaman, empuk, bisa diajak ngetik SMS cepat. Jangan tanya kinerja keypad SE J230i, byuh, keras plus lambattttnya… Dibanding Nokia 3315, SE J230i masih kalah. Saya tak tahu apakah HP SE kelas untuk orang kaya (hehe) juga demikian, atau sebaik Nokia, mana saya tahu…
  • SE mendukung teknologi memori eksternal yang tidak murah; terus terang, poin ini adalah satu penyebab mengapa seorang rekan saya menjadi *sangat* benci dengan HP produk SE… Harga M2 dan sejenisnya, jujur, lebih mahal. Jauh lebih mahal. Buat orang miskin, barangkali apa pentingnya “kecil”, jika tak sanggup beli? Apakah punya benda “micro” (wah, keciiiil banget) itu hal yang penting, sepenting isu “ada nasi gak buat dimakan esok pagi”? Ini hal yang menyedihkan…😦

Sementara itu saja yang bisa saya ungkapkan; bagaimana pun, tulisan saya sangat subyektif; Anda tidak diajurkan mempercayainya mentah-mentah:mrgreen: Tetapi, bagi yang merasa “miskin”, bolehlah mempercayainya mentah-mentahanπŸ˜‰

Memang, bagi orang miskin, pada akhirnya segalanya menjadi *terlihat* lebih susah. Mungkin sebenarnya tidak susah…😐

6 responses to “Riset tentang Handphone: mereknya

  1. @Mrs. Neo Fortynine: Siemens itu oke juga koq mbak/bu/neng… Teman saya yang pake itu cuman ada 3 orang. Sayangnya lum sempat di-interview; jadi… gbs bikin tambahan ttg Siemens.
    Bila berkenan, beri saya review singkat ttg Siemens. Atau bikin tulisan ttg itu. Eh, atau sudah? Wah, saya emang belum ngubek-ubek blog njenengan sedalem ituh…πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s